KEBUMEN – Desa Watukelir menorehkan sejarah panjang yang merefleksikan evolusi pemerintahan desa dari era kolonial Belanda hingga masa modern. Perjalanan kepemimpinan desa dimulai dengan Lurah pertama, Dongkol Tongkok, yang memimpin wilayah timur (Bengkek) dan melanjutkan garis kepemimpinan melalui keturunannya.
Setelah Tongkok, Lurah digantikan oleh Wirya Menawi atau Dongkol Gonggong untuk wilayah barat, kemudian Glondong Jaman sebagai Lurah ketiga, dan Martanom (Dongkol Martanom) sebagai Lurah keempat. Periode Lurah kelima, Sataruna, menjadi titik penting dengan pembukaan lahan dari Hutan Negara menjadi desa yang aman dan makmur. Transformasi ini melahirkan tradisi budaya yang masih lestari, seperti selamatan desa atau Guyuban/Merdi Dusun, yang menampilkan pemotongan kerbau dan pertunjukan seni Tayub, warisan kolonial Belanda.
Kepemimpinan berlanjut dengan Lurah Atmo Pawiro dua periode, Lurah Karya Wikrama (1951–1975), dan kemudian Lurah-lurah berikutnya: Supar Hadi Suwito, S. Prawiroharjo, S. Siswo Wisastro, Samijo, Naslam, dan Rasim Haryanto. Saat ini, Lurah Samijo kembali memimpin untuk periode kedua (2019–2025). Samijo menegaskan, “Tradisi ini harus tetap dijaga agar nilai-nilai gotong royong dan budaya leluhur tidak hilang,”
Sejarah kepemimpinan Watukelir menekankan tidak hanya aspek administratif, tetapi juga pelestarian adat dan budaya. Warisan ini diharapkan terus dilanjutkan oleh generasi baru demi mempertahankan identitas desa dan kekompakan masyarakat.[]
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara