BJB Fest, Wujud Rekonsiliasi Budaya Pascapandemi

MALANG – Festival budaya Busu Jaman Biyen (BJB Fest) kembali digelar setelah vakum hampir enam tahun, dengan melibatkan lebih dari 1.000 warga Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada 10–12 April 2026, sebagai upaya kebangkitan ekonomi dan rekonsiliasi sosial pascapandemi.

Kegiatan yang didukung hibah program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan ini mengusung tema “Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat” dan menjadi momentum pemulihan kolektif masyarakat desa. Seluruh warga terlibat aktif, mulai dari penyelenggaraan hingga penyajian kuliner tradisional, di mana setiap rumah disulap menjadi lapak yang menawarkan makanan khas berbasis hasil bumi lokal.

Penanggung Jawab BJB Fest 2026, Kusnadi, menyebut festival ini tidak sekadar ajang hiburan, tetapi juga simbol kebangkitan identitas budaya masyarakat.
”Ini momen rekonsiliasi bagi kami. Kondisi alam dan ekonomi pasca-pandemi memang sulit, tetapi semangat gotong royong warga untuk menghidupkan kembali identitas Dusun Busu jauh lebih kuat,” ujarnya.

Salah satu daya tarik utama festival adalah pertunjukan Ludruk Organik yang dimainkan oleh petani lokal tanpa latar belakang pendidikan seni formal. Meski demikian, pertunjukan tersebut dikenal mampu mengangkat isu kemanusiaan dan keadilan sosial secara kritis, bahkan sempat menarik perhatian pegiat budaya di Malang Raya pada 2019.

Selain pertunjukan seni, festival juga menghadirkan berbagai kuliner tradisional seperti sego derit dan gethuk, serta lomba lapak dan kostum bertema jadul untuk memperkuat nuansa budaya masa lampau.
“Nantinya banyak makanan kuno seperti sego derit, gethuk, dan sebagainya. Ada juga lomba lapak jadul dan kostum jadul,” kata Kusnadi.

Festival ini ditargetkan menarik sekitar 5.000 pengunjung dan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal hingga 30 persen.

Tokoh masyarakat Dusun Busu, Junaidi, menambahkan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai lebih awal melalui pementasan teater tari oleh kelompok Malang Dance.
“Dengan pementasan ini, ada semangat ingin berbagi dan mencoba membalik cerita tentang Rahwana,” kata dia.

Ia menjelaskan, reinterpretasi tokoh Rahwana dalam pementasan tersebut menyoroti nilai cinta sejati yang jarang diangkat dalam narasi umum.
“Cinta sejati atau roh kehidupan Rahwana itu Widyowati,” pungkasnya.F

Ke depan, festival ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata berbasis desa sekaligus menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Tradisi Ujungan Jadi Ikhtiar Desa Gumelem Wetan Hadapi Kemarau

PDF đź“„Desa Gumelem Wetan kembali menjadi ruang pelestarian tradisi Ujungan yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus …

Desa Jiporapah Perkuat Warga Dusun Terpencil lewat Tradisi dan Infrastruktur

PDF đź“„Pemerintah Desa Jiporapah mempertahankan kebersamaan warga Dusun Kedung Dendeng melalui pelestarian tradisi sekaligus dukungan …

Lima Warga Jadi Pengrajin, Batik Dorong Potensi Ekonomi Desa Jalatrang

PDF đź“„Desa Jalatrang, Ciamis, mengembangkan batik bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *