CIREBON – Sebanyak 90 desa wisata di Kabupaten Cirebon berpeluang memperluas jangkauan promosi dan menarik lebih banyak wisatawan melalui kemitraan dengan pelaku industri pariwisata. Peluang itu mengemuka dalam West Java Tourism Exchange (WJTE) 4 2026 yang mempertemukan 120 pembeli dan 60 penjual produk serta jasa pariwisata di Patra Cirebon Hotel & Convention, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Cirebon Raya tersebut menjadi ruang pertemuan bisnis untuk memperkenalkan produk wisata, menjajaki kerja sama, dan memperluas pemasaran destinasi. Forum ini mengusung tema “Membangun Koneksi, Menumbuhkan Pariwisata”.
Bagi desa wisata, pertemuan antara pembeli dan penyedia produk pariwisata tersebut membuka peluang untuk menghubungkan potensi lokal dengan jaringan pemasaran yang lebih luas. Dukungan pelaku industri dinilai penting agar destinasi di pedesaan tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional.
Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno, mengapresiasi penyelenggaraan WJTE sebagai ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi pemerintah daerah dan industri pariwisata. Ia menegaskan, pengembangan destinasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Pengembangan pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, asosiasi, pelaku usaha, komunitas, dan seluruh pihak yang memiliki kepentingan dalam memajukan sektor ini,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, forum bisnis tersebut memberi kesempatan kepada pelaku industri untuk memperkenalkan produk, menjajaki kemitraan, serta membangun kerja sama berkelanjutan. Pola kolaborasi ini diharapkan turut memperkuat promosi desa wisata yang membutuhkan dukungan jaringan pemasaran dan pengalaman pengelolaan destinasi.
Kabupaten Cirebon memiliki 90 desa wisata yang berpotensi dikembangkan sebagai tujuan kunjungan. Potensi tersebut menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata daerah, termasuk melalui promosi dan kerja sama dengan pelaku usaha yang dapat membantu memperkenalkan destinasi kepada pasar yang lebih luas.
“Sebanyak 90 desa wisata yang kita miliki perlu mendapatkan dukungan dari para penggiat pariwisata. Potensi ini harus dikembangkan bersama agar desa-desa wisata di Kabupaten Cirebon tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga mampu bersaing dan menarik wisatawan dari tingkat nasional,” katanya.
Disbudpar Kabupaten Cirebon juga berencana memperkuat upaya pengembangan pariwisata melalui program-program pada 2027. Pengembangan desa wisata diharapkan berlangsung secara berkelanjutan dengan melibatkan komunitas, asosiasi, dan pelaku usaha sehingga potensi lokal dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Sektor pariwisata sendiri dinilai memiliki peran dalam mendorong perekonomian daerah, antara lain melalui peluang pendapatan, penciptaan lapangan kerja, serta pergerakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, perluasan pemasaran destinasi desa menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menghubungkan potensi wisata dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
Fajar juga berharap kolaborasi tersebut menjangkau kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan yang dikenal sebagai Ciayumajakuning. Sinergi lintas daerah dinilai dapat membantu memperluas pengenalan destinasi wisata di kawasan tersebut.
“Harapannya, melalui sinergi pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku industri pariwisata, potensi wisata di Kabupaten Cirebon maupun wilayah Ciayumajakuning semakin dikenal luas dan memiliki daya saing di tingkat nasional,” ungkapnya.
Sebagaimana diberitakan About Cirebon, Rabu, (21/10/2026), penyelenggaraan WJTE 4 2026 diharapkan memperkuat hubungan antarpelaku industri, membuka peluang kerja sama baru, serta memperluas akses pemasaran destinasi di Kabupaten Cirebon dan kawasan sekitarnya.
“Dengan adanya forum bisnis tersebut, potensi destinasi wisata di Kabupaten Cirebon dan kawasan Ciayumajakuning diharapkan dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pariwisata yang kolaboratif dan berkelanjutan,” pungkasnya. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara