Desa Penglipuran Masuk Daftar Desa Terindah Dunia, Ini Kunci Keunggulannya

BANGLI – Pelestarian adat, kebersihan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat menjadi modal utama Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, dalam memperoleh pengakuan internasional sebagai salah satu dari The 53 Most Beautiful Small Towns in the World versi majalah perjalanan CondĂ© Nast Traveller.

Pengakuan tersebut memperkuat posisi Penglipuran sebagai contoh pengembangan desa wisata yang bertumpu pada budaya dan kelestarian lingkungan. Bagi masyarakat setempat, pencapaian itu sekaligus menjadi pengingat bahwa daya tarik pariwisata perlu dijaga tanpa menghilangkan identitas desa adat.

Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan penghargaan tersebut merupakan hasil upaya masyarakat dalam mempertahankan warisan leluhur dan merawat lingkungan selama ratusan tahun.

“Namun yang lebih penting, pengakuan ini adalah penghargaan untuk masyarakat Desa Adat Penglipuran yang selama ratusan tahun menjaga warisan leluhur, mempertahankan arsitektur tradisional, melestarikan hutan bambu, serta menjadikan kebersihan dan keharmonisan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar I Wayan Sumiarsa, sebagaimana diberitakan Kabar Nusa (14/10/2026).

Komitmen tersebut terlihat dari tata ruang desa yang mempertahankan filosofi Tri Mandala, yakni pembagian wilayah menjadi Utama Mandala sebagai kawasan suci, Madya Mandala untuk permukiman, serta Nista Mandala untuk pemakaman dan kegiatan luar.

Selain tata ruang tradisional, sekitar 40 persen wilayah Penglipuran merupakan kawasan hutan bambu yang dilindungi. Kawasan ini berperan dalam menjaga tata air sekaligus mendukung kelestarian ekosistem setempat.

Lingkungan desa juga ditandai oleh jalan utama yang tertata, rumah-rumah tradisional Bali dengan arsitektur seragam, serta kebersihan kawasan permukiman. Unsur-unsur tersebut menjadi bagian dari karakter desa yang dipertahankan masyarakat.

Menurut Sumiarsa, keharmonisan kehidupan warga dengan alam dan budaya berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Ia menegaskan bahwa pariwisata seharusnya tumbuh dari kekuatan budaya lokal, bukan justru mengorbankan nilai-nilai yang menjadi identitas desa.

“Kami memiliki visi bahwa pariwisata harus mampu menjadikan Desa Penglipuran lebih baik dari sebelumnya. Lingkungan harus semakin terawat, budaya semakin kuat, masyarakat semakin sejahtera, dan wisatawan mendapatkan pengalaman yang berkualitas. Inilah makna pariwisata regeneratif yang ingin kami wujudkan,” tegas Sumiarsa.

Sejalan dengan visi tersebut, pengelola mengarahkan pengembangan wisata pada pendekatan inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif. Keberhasilan pariwisata tidak hanya dilihat dari jumlah pengunjung atau pendapatan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pemulihan lingkungan, pelestarian budaya, dan kemajuan masyarakat setempat.

Sejumlah langkah yang dijalankan mencakup peremajaan hutan bambu, pengelolaan sampah terpadu, pemeliharaan rumah adat, peningkatan mutu layanan, serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Pengelola juga memperluas kegiatan wisata edukatif agar pengunjung dapat mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat. Aktivitas yang ditawarkan meliputi menyaksikan pertunjukan tradisional Barong Macan, mempelajari pembuatan minuman herbal khas Bali berupa loloh cemcem, mencicipi kuliner tradisional, serta belajar melukis pada media bambu bersama perajin setempat.

Pendekatan tersebut membuka ruang bagi interaksi wisatawan dengan warga sekaligus memperkenalkan produk dan keterampilan lokal. Pengunjung juga diimbau menjaga kebersihan, menghormati aturan adat atau awig-awig, serta mendukung perekonomian masyarakat dengan membeli produk kerajinan setempat.

“Kami ingin wisatawan pulang membawa lebih dari sekadar foto dan kenangan indah. Kami berharap mereka membawa pengalaman tentang bagaimana masyarakat hidup harmonis dengan alam dan budaya,” ungkapnya.

Pengakuan internasional itu diharapkan menjadi dorongan bagi Penglipuran untuk menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata, kelestarian lingkungan, keberlanjutan tradisi, dan kesejahteraan warga. Dengan demikian, desa adat tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kemampuannya merawat warisan budaya dan lingkungan bagi generasi berikutnya. []

Redaksi02

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

3.000 Pemuda Bakal Dikirim ke Jepang untuk Dukung Pembangunan Desa

PDF đź“„JAKARTA – Penguatan kapasitas pemuda menjadi salah satu langkah yang didorong Kementerian Desa dan …

Desa Bantarbarang Dapat Jalan Baru 715 Meter, Ini Sasaran TMMD 2026

PDF đź“„PURBALINGGA – Pembangunan jalan baru sepanjang 715 meter di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten …

KPK Ungkap Dana Desa Dipakai Judi Daring, Aparatur Desa Diingatkan

PDF đź“„BANTUL – Pengelolaan Dana Desa yang jujur, transparan, dan akuntabel menjadi kunci bagi pemerintahan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *