Sebanyak 15 desa wisata rintisan di Klaten menjadi sasaran pengembangan melalui pemetaan potensi lokal, pendampingan dan penguatan keterlibatan masyarakat agar mampu tumbuh menjadi destinasi yang mandiri dan berkelanjutan.
KLATEN – Pengembangan desa wisata rintisan menjadi salah satu fokus penguatan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Klaten. Dari 40 desa wisata yang telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Bupati Klaten, 15 di antaranya masih berstatus rintisan dan diarahkan untuk mengembangkan potensi masing-masing agar dapat naik kelas.
Upaya tersebut mengemuka dalam Festival Desa Wisata Desamorfosis yang berlangsung di Taman Barepan, Kecamatan Cawas, pada Jumat-Sabtu, 25-26 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus menggali potensi desa yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Festival itu diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) bersama Forum Komunikasi Desa Wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Klaten. Pada pelaksanaan tahun ini, desa wisata rintisan mendapat porsi lebih besar dalam pengembangan.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata dan Pokdarwis Klaten Hartaya mengatakan pengembangan desa wisata juga berkaitan dengan target penambahan jumlah desa wisata di daerah tersebut. Hal itu disampaikannya sebagaimana diberitakan Radarsolo, Minggu, (27/09/2026).
“Untuk mendukung program provinsi tersebut, di Klaten kita targetkan memunculkan 40 desa wisata baru lagi. Sehingga ke depan totalnya bisa mencapai 80 desa wisata,” ujar Hartaya, Jumat (25/9/2026)
Target tersebut membuat pemetaan potensi desa menjadi bagian penting dalam proses pengembangan. Forum melakukan pendampingan terhadap desa untuk melihat kekuatan yang dapat diolah menjadi daya tarik wisata sekaligus mendorong desa yang telah berkembang untuk berbagi pengalaman dengan desa wisata rintisan.
Pendekatan pengembangan tidak dibatasi pada objek wisata alam. Potensi pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kerajinan, kesenian, situs sejarah hingga kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana juga dinilai dapat menjadi bagian dari konsep desa wisata apabila dikemas secara menarik.
“Wisata itu tidak harus air, apapun bisa. Ada yang menonjolkan sektor pertanian, UMKM kreatif seperti kerajinan kipas di Keprabon (Kecamatan Polanharjo) hingga seni wayang di Sidowarno (Kecamatan Wonosari). Bahkan konsep desa wisata tanggap bencana maupun heritage sangat potensial,” jelasnya.
Sejumlah desa menjadi contoh pemanfaatan kekayaan lokal tersebut. Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, misalnya, memiliki jejak sejarah pandai besi seperti pembuatan keris serta rumah-rumah kuno peninggalan era Pangeran Diponegoro yang berpotensi dikembangkan menjadi paket wisata sejarah.
Sementara itu, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, menjadi contoh lain dari desa yang memiliki kekayaan budaya meski belum berstatus sebagai desa wisata. Desa tersebut menjadi tuan rumah Festival Desa Wisata Desamorfosis tahun ini.
Potensi budaya Barepan antara lain terlihat dari keberadaan kelompok seni gejog lesung di setiap rukun warga (RW). Selain itu, masyarakat setempat memiliki tradisi penyajian kuliner khas legondo saat menyambut 1 Muharam di Petilasan Sunan Kalijaga, Dusun Sepi.
“Di sini ada 12 RW, setiap RW memiliki kelompok gejog lesung. Ditambah setiap menyambut 1 Muharram, di petilasan Sunan Kalijaga di Dusun Sepi selalu ramai bersama kuliner khas legondo,” ujar pegiat seni Desa Barepan, Kanti Handayani.
Pengembangan berbasis potensi lokal tersebut diharapkan membuat desa wisata rintisan tidak sekadar memiliki status sebagai destinasi, tetapi mampu mengelola kekuatan wilayahnya melalui kelembagaan dan keterlibatan masyarakat. Pendampingan berkelanjutan juga menjadi bagian dari upaya agar potensi desa dapat berkembang menjadi kegiatan wisata yang mendukung perekonomian masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara