Banjir Matikan Ribuan Jeruk, Warga Pante Lhong Mulai Bangkit

BIREUEN – Pemulihan sumber penghasilan warga Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, mulai diarahkan pada pengembangan kembali jeruk pamelo atau jeruk giri matang yang rusak akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Program revitalisasi komoditas tersebut diharapkan dapat mengembalikan salah satu penopang ekonomi masyarakat yang nyaris hilang akibat bencana.

Upaya pemulihan dilakukan melalui Program Revitalisasi Komoditas Jeruk dalam rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Banjir Aceh yang digagas Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Program tersebut ditandai dengan penanaman simbolis bibit jeruk giri matang di kompleks Dayah Raudhatul Ma’arif, Gampong Pante Lhong, Senin (7/9/2026). Kegiatan melibatkan Sekretaris Daerah (Sekda) Bireuen, perwakilan MDMC, dan Keuchik Gampong Pante Lhong. MDMC sendiri telah hadir di wilayah tersebut sejak sekitar tiga bulan sebelumnya.

Banjir bandang yang melanda kawasan itu menyebabkan lebih dari seribu batang jeruk pamelo di Pante Lhong dan sejumlah gampong lain di Kecamatan Peusangan mati. Tanaman yang sebelumnya tumbuh di sekitar rumah warga dan menjadi komoditas unggulan kini hanya menyisakan sebagian kecil tanaman yang masih bertahan.

Keuchik Pante Lhong Murizal mengatakan bencana tersebut berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Dari kondisi tanaman jeruk yang tersisa, diperkirakan hanya sekitar seperempat yang masih hidup.

“Sekarang tanaman tersebut mungkin tersisa 25 persen, lainnya sudah mati semua,” ujar Murizal.

Pante Lhong berada berbatasan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan di sisi timur dan selatan. Kondisi geografis tersebut membuat wilayah itu rentan terdampak luapan sungai ketika curah hujan tinggi.

Hilangnya tanaman jeruk juga memperbesar tekanan terhadap warga yang selama ini memiliki sumber penghasilan dari berbagai sektor. Selain jeruk, masyarakat setempat mengandalkan pepaya, usaha dapur batu bata merah, peternakan lembu, kambing dan biri-biri, serta penambangan pasir tradisional di aliran sungai.

Imum Gampong Pante Lhong Tgk Abdul Muthalib menjadi salah satu warga yang mengalami langsung dampak bencana tersebut. Sebanyak 25 batang jeruk bali miliknya mati setelah diterjang banjir. Ia berharap penanaman kembali dapat membantu masyarakat memulihkan penghidupan yang terdampak.

“Di Pante Lhong tidak ada sawah. Sumber penghidupan kami hanya dari giri matang, pepaya, dapur bata merah, ternak, dan penambangan pasir. Sejak banjir semuanya sudah hancur,” ujarnya sambil menunjukkan pohon giri matang yang tumbang akibat akarnya membusuk.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews, Senin, (07/09/2026), program revitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana dengan mengembalikan tanaman yang sebelumnya menjadi komoditas unggulan masyarakat Pante Lhong.

Bagi warga, penanaman kembali bukan sekadar mengganti tanaman yang mati, tetapi juga menjadi langkah untuk memulihkan sumber ekonomi yang terdampak banjir. Keberhasilan program diharapkan dapat membuat sentra jeruk Pante Lhong kembali produktif dan membuka peluang penghasilan bagi masyarakat secara bertahap.

“Mudah-mudahan jeruk bali di Pante Lhong berkembang lagi,” harapnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Warga Belum Pulang, Kebutuhan Dasar Korban Gempa Nagekeo Masih Mendesak

PDF đź“„NAGEKEO – Warga korban gempa di Desa Marapokot dan Nangadhero, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara …

110 Kali Distribusi, 1.884 Warga Ngawi Hadapi Krisis Air

PDF đź“„NGAWI – Sebanyak 1.884 warga di 15 desa pada tujuh kecamatan di Kabupaten Ngawi, …

RUU Reforma Agraria, Desa Diminta Aktif Petakan Konflik Lahan

PDF đź“„JAKARTA – Pemerintah desa diusulkan memiliki kewenangan yang lebih tegas dalam menangani konflik agraria …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *