SERANG – Festival Cikolelet 2026 tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari strategi Desa Cikolelet mengembangkan pariwisata berbasis budaya sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Festival yang digelar untuk keenam kalinya itu mempertemukan pelestarian tradisi dengan pengembangan potensi desa.
Festival Cikolelet ke-6 berlangsung di Alun-alun Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, pada Jumat (28/8/2026) malam. Kegiatan tersebut diisi pentas seni tradisional dan pagelaran Wayang Kulit Giri Harja Putra 2 serta dihadiri ribuan warga se-Kecamatan Cinangka.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menilai keberlanjutan festival menunjukkan keseriusan masyarakat Cikolelet dalam menjaga kearifan lokal sekaligus mengangkat potensi ekonomi desa. Ia menyoroti keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan berbagai potensi lokal yang turut diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
“Acara yang luar biasa yaitu Festival Wisata Desa Cikolelet. Sungguh luar biasa dan membanggakan kita semua untuk mempertahankan kearifan lokal. Kemudian juga ada potensi desa yang diangkat ke permukaan, ada BUMDes, ada Ngaguradano, ada macam-macam yang ditampilkan. Ini artinya Desa Cikolelet sangat peduli, sangat gigih memperjuangkan kearifan lokal dan disambungkan dengan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yandri Susanto, sebagaimana diberitakan Zetizens, Senin (31/8/2026).
Menurut Yandri, pengembangan festival berpotensi memperluas aktivitas usaha masyarakat. Pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta peningkatan pendapatan warga menjadi salah satu dampak yang diharapkan dari pengembangan kegiatan wisata desa.
“Selamat buat Desa Cikolelet, luar biasa ini untuk bangun desa, bangun Indonesia,” katanya.
Yandri juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan media sosial secara bertanggung jawab. Menurutnya, platform tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kegiatan positif di desa, tetapi dapat menimbulkan persoalan apabila digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau fitnah.
“Misalkan menyebarkan berita hoaks, berita fitnah, berita yang menyerang orang dengan tanpa data, itu sangat merugikan bangsa ini dan juga merugikan bagi yang menyebarkan. Hati-hati, karena akan berurusan dengan aparat penegak hukum. Contoh saya, difitnah dibuat AI, seolah-olah saya menutup warung di desa padahal itu nggak pernah saya sampaikan, makanya saya laporkan ke aparat penegak hukum,” tegasnya.
Ia mendorong media sosial digunakan untuk memperluas jangkauan promosi kegiatan desa, termasuk Festival Cikolelet, sehingga potensi wisata dan budaya setempat semakin dikenal masyarakat.
“Jadi mari bermedsos dengan bertanggung jawab dan itu dalam rangka kita untuk melakukan persatuan dan kesatuan, ujungnya itulah untuk kesejahteraan rakyat Indonesia,” tandasnya.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyebut Desa Wisata Cikolelet sebagai salah satu percontohan atau role model pengembangan desa wisata di wilayahnya. Menurutnya, keberagaman potensi lokal yang dikelola secara konsisten dapat menghasilkan prestasi sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
“Penyelenggaraan Festival Cikolelet tidak hanya menyajikan hiburan masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi kebudayaan daerah,” ujarnya.
Ratu Zakiyah mengatakan pelestarian tersebut terlihat dari berbagai kesenian yang ditampilkan, termasuk Rampak Bendrong Lesung dan Wayang Golek Giri Harja Putra 2. Ia menilai keberlangsungan tradisi menjadi salah satu modal penting dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
“Upaya pelestarian budaya ini berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pariwisata berbasis komunitas yang tumbuh di Desa Cikolelet telah memberikan dampak ekonomi nyata atau multiplier effect yang dirasakan langsung oleh warga. Pemkab Serang akan terus mendukung,” katanya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang juga mendorong masyarakat menjaga keramahan, keamanan, dan kebersihan lingkungan agar pengalaman wisatawan selama berkunjung tetap baik.
“Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Desa RI, Kepala Desa Cikolelet, panitia pelaksana, para sponsor dan donatur, serta seluruh jajaran yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini,” tuturnya.
Kepala Desa (Kades) Cikolelet Ojat Darojat mengatakan festival tersebut telah digelar enam kali sejak 2020. Konsistensi penyelenggaraan menjadi penanda bahwa masyarakat masih mempertahankan tradisi budaya yang berkembang di desa tersebut.
Cikolelet juga telah mendapatkan sertifikat sebagai desa yang mempunyai kearifan lokal dari Kementerian Pariwisata. Status sebagai desa wisata telah disandang sejak 2017 dan menjadi dasar bagi masyarakat untuk terus mengembangkan inovasi dengan menjadikan tradisi budaya sebagai salah satu daya tarik utama.
“Artinya ini adalah modal dasar kita dalam rangka bagaimana mengembangkan inovasi di Desa Cikolelet. Di mana Cikolelet sejak tahun 2017 masuk dalam kategori desa wisata. Artinya walaupun dengan kendala-kendala yang ada tetapi kita tetap fokus pada pengembangan desa wisata Desa Cikolelet, melalui konsep tradisi budaya tersebut,” ujarnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara