WONOGIRI – Batik Ciprat Karya Barokah di Desa Pucung, Kabupaten Wonogiri, menjadi ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sekaligus menunjukkan kemampuan mereka melalui karya batik. Kelompok yang mulai dirintis pada 2017 itu kini terus berkarya dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui PLN Peduli.
Program tersebut berawal ketika lebih dari 60 penyandang disabilitas di Desa Pucung belum memiliki ruang pemberdayaan. Kondisi itu mendorong pembentukan kegiatan yang dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar dan menghasilkan karya secara mandiri.
Ketua Yayasan Batik Ciprat Karya Barokah Yoyok Ernowo mengatakan kondisi para penyandang disabilitas saat itu menjadi alasan utama kelompok tersebut dikembangkan.
“Kepala Desa Pucung melihat ada 60 lebih penyandang disabilitas yang pada waktu itu masih belum diberdayakan, masih dianggap beban,” tutur Yoyok Ernowo, sebagaimana diberitakan Antara, Senin (17/08/2026).
Upaya pemberdayaan kemudian diarahkan pada keterampilan membatik. Pada 2018, enam penyandang disabilitas mengikuti pelatihan selama dua hari dengan pendampingan guru sekolah luar biasa (SLB) di Wonogiri.
Proses pelatihan tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan membuat batik, tetapi juga membangun komunikasi antara pendamping dan anggota kelompok. Tantangan muncul karena sebagian anggota tidak bersekolah dan menggunakan bahasa isyarat yang berbeda.
“Kita belajar komunikasinya otodidak, apa adanya. Kita membaca apa yang disampaikan lewat isyarat tangan, kemudian ekspresi, dan sebagainya,” kata Yoyok.
Dari enam anggota pada awal pelatihan, kelompok tersebut berkembang menjadi 23 orang pada 2019. Saat ini, sebanyak 10 anggota masih aktif menghasilkan karya Batik Ciprat Karya Barokah.
Perkembangan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas keraguan yang sempat muncul di tengah masyarakat. Kelompok itu memilih menunjukkan manfaat kegiatan melalui karya dan aktivitas para anggotanya.
“Harus kita jawab dengan karya-karya, dengan kegiatan-kegiatan yang bisa membuktikan bahwa kegiatan ini memang sangat bermanfaat bagi teman-teman penyandang disabilitas,” ujar Yoyok.
Karya kelompok tersebut kemudian mendapat pengakuan melalui sejumlah penghargaan. Di antaranya Platinum Category pada Indonesian CSR Award (ICA) 2024, Gold Category Award pada Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2023, serta menjadi finalis Padma Mitra Award pada Agustus 2026.
Penguatan kegiatan juga dilakukan PLN Peduli melalui program TJSL sejak 2022. Dukungan tersebut mencakup sarana dan prasarana, workshop, ruang pajang, serta alat dan bahan produksi untuk menunjang aktivitas kelompok.
General Manager (GM) PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah Bramantyo Anggun Pambudi mengatakan pemberdayaan membutuhkan dukungan yang lebih luas agar masyarakat yang diberdayakan memiliki ruang untuk berkembang.
“Untuk itulah PLN hadir memperkuat perjuangan Batik Ciprat Karya Barokah,” tuturnya.
Bagi anggota Batik Ciprat Karya Barokah, dukungan tersebut menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan diri dan memperluas kesempatan untuk menghasilkan karya. Aktivitas membatik juga memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas dapat berkontribusi melalui keterampilan yang mereka miliki.
Keberlanjutan program diharapkan dapat menjaga ruang berkarya bagi penyandang disabilitas di Desa Pucung sekaligus memperkuat penerimaan masyarakat terhadap kemampuan mereka. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara