TEMANGGUNG – Petani di Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, mulai dikenalkan dengan teknologi pertanian berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi serangan hama secara lebih cepat dan akurat. Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro (Undip) melalui perangkat perangkap serangga pintar berbasis energi surya.
Teknologi yang diperkenalkan berupa light trap atau perangkap serangga yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Perangkat tersebut dirancang tidak hanya untuk menangkap serangga pengganggu tanaman, tetapi juga mengumpulkan data yang dapat membantu petani mengenali karakteristik hama sebelum menentukan langkah pengendalian.
Program ini bermula dari hasil pengamatan mahasiswa bersama kelompok tani yang menemukan bahwa serangan hama masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian. Melalui pemanfaatan teknologi digital, petani diharapkan mampu mengambil keputusan berdasarkan data, bukan hanya mengandalkan pengalaman.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Undip menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat dengan mendorong mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan yang dihadapi warga.
“Perangkap ini bukan alat untuk menghilangkan seluruh hama. Fungsi utamanya adalah mendeteksi jenis serangga yang menyerang tanaman. Setelah diketahui, petani dapat memanfaatkan teknologi AI untuk mengidentifikasi karakteristik hama dan menentukan langkah penanganan yang paling sesuai,” jelasnya, sebagaimana diberitakan Harian Merapi, Senin (03/08/2026).
Selain pemasangan alat, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada kelompok tani mengenai penggunaan teknologi digital dalam pengelolaan pertanian. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan pengendalian hama secara lebih efektif.
Mahasiswa KKN Tematik Undip dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Undip, Nikolaus Febrian Dananjaya, mengatakan perangkat tersebut memanfaatkan sejumlah komponen, seperti panel surya sebagai sumber energi, lampu pemikat serangga, blower untuk menarik hama ke perangkap, sensor proximity sebagai pendeteksi, serta Solar Charge Controller (SCC), baterai, dan timer untuk mengatur operasional alat.
Menurut Nikolaus, teknologi itu tidak hanya dapat digunakan pada tanaman cabai, tetapi juga berpotensi diterapkan pada berbagai komoditas lain seperti tembakau, padi, dan tanaman hortikultura sesuai kebutuhan musim tanam.
Hingga tahap uji coba, biaya pengembangan alat tersebut mencapai sekitar Rp14 juta. Perangkat masih dalam proses pengamatan lapangan selama 14 hingga 21 hari untuk mengetahui tingkat efektivitas dan jangkauan kerjanya. Dalam pengujian awal, alat telah menangkap sejumlah jenis hama, seperti lalat buah, kutu kebul, thrips, serta berbagai serangga kecil yang aktif pada malam hari.
Kepala Desa Campuranom Wirawan menyebut inovasi tersebut menjadi langkah awal kerja sama antara pemerintah desa, petani, dan perguruan tinggi dalam membangun sistem pertanian modern. Ia berharap pengembangan teknologi itu dapat terus berlanjut setelah program KKN selesai melalui pendampingan berkelanjutan.
Menurutnya, teknologi pendeteksi hama berbasis data dapat membantu petani mengurangi risiko gagal panen sekaligus meningkatkan hasil produksi. Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak dapat memperluas penerapan inovasi serupa ke desa-desa lain di Kabupaten Temanggung. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara