Sumber Air Minim, BPBD Kotim Andalkan Strategi Putus Jalur Api

SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengubah strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Setelah kebakaran berlangsung selama 17 hari, upaya kini difokuskan pada pemutusan jalur rambatan api untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan dan kebun warga.

Perubahan strategi dilakukan karena api masih bertahan di bawah permukaan lahan gambut meski pemadaman darat maupun water bombing telah dilakukan berulang kali. Kondisi tersebut menjadikan Desa Eka Bahurui sebagai salah satu titik karhutla paling sulit ditangani di Kotim.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan titik api mulai terpantau sejak 3 Juli 2026 dan hingga kini masih aktif.

“Kalau dihitung dari 3 Juli sampai sekarang, berarti sudah sekitar 17 hari. Sampai hari ini api masih aktif dan menjadi perhatian kami,” kata Multazam, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (21/07/2026).

Menurutnya, pemutusan jalur rambatan dipilih karena tidak memungkinkan memadamkan seluruh area yang terbakar dalam waktu bersamaan.

“Kami tidak bisa memadamkan seluruh area yang terbakar. Yang kami lakukan adalah memutus perambatan api supaya tidak meluas. Itu yang sekarang juga kami lakukan di Kuda Marlih,” ujarnya.

Strategi serupa sebelumnya diterapkan saat menangani karhutla di Kelurahan Baamang Hulu dan dinilai mampu mengurangi kepulan asap meskipun api di bawah permukaan belum sepenuhnya padam.

Hasil pemeriksaan lapangan menggunakan pesawat nirawak (drone) juga menunjukkan kepulan asap masih tebal di kawasan Desa Eka Bahurui. Kondisi tersebut mengindikasikan api masih aktif di bawah permukaan gambut.

“Tadi pagi saya melakukan ground check menggunakan pesawat nirawak. Dari udara terlihat kepulan asap cukup tebal. Itu menandakan api masih aktif di bawah tanah dan harus segera dipotong agar tidak meluas,” kata Multazam.

BPBD Kotim mengungkapkan rambatan api kini bergerak menuju Jalan Poros hingga kawasan yang terhubung ke Desa Pembuang Makmur, sehingga pengawasan diperketat untuk mencegah kebakaran meluas ke wilayah permukiman maupun lahan produktif masyarakat.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD bersama pemerintah desa dan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) mengimbau warga menyiapkan embung portabel berbahan terpal sebagai cadangan air untuk penanganan dini apabila muncul titik api di sekitar kebun.

“Kami berharap masyarakat bisa menyiapkan sumber air sederhana di kebunnya masing-masing. Air dari parit atau saluran bisa ditampung ke embung portabel sehingga jika ada ancaman kebakaran bisa dilakukan penanganan awal secara mandiri,” ujar Multazam.

Di sisi lain, minimnya sumber air masih menjadi hambatan utama operasi pemadaman. Petugas harus membentangkan sekitar 26 gulung selang sepanjang 750 meter untuk menjangkau titik api, sementara tinggi muka air di parit sekitar lokasi hanya berkisar 35–40 sentimeter dan tidak mengalir sehingga menyulitkan penggunaan pompa portabel.

“Personel siap, unit juga siap. Tapi kalau di lapangan air tidak tersedia, tentu kami kesulitan melakukan pemadaman. Itu kendala utama di Eka Bahurui,” kata Multazam.

Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah menilai keterbatasan sumber air menjadi tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di wilayahnya.

“Persoalan terbesar yang kami hadapi bukan pada peralatannya, melainkan tidak adanya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Akibatnya, proses pemadaman menjadi jauh lebih berat,” ujar Irpansyah.

Ia menambahkan, lokasi kebakaran berada sekitar dua kilometer dari jalan yang dapat dilalui kendaraan sehingga petugas harus berjalan kaki sambil membawa perlengkapan menuju titik api.

Berdasarkan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar di Desa Eka Bahurui telah mencapai lebih dari delapan hektare. Sementara pemerintah kecamatan memperkirakan luasnya telah melampaui 10 hektare. Jika digabung dengan kebakaran di Jalan Amin Kelaru dan Jalan Lembur Kuring, total lahan terbakar di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang diperkirakan mencapai sekitar 16 hektare.

Hingga 18 Juli 2026, BPBD Kotim mencatat Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak di Kotim sepanjang 2026, yakni 32 kejadian. Sebanyak 29 kejadian berhasil ditangani dengan total luas lahan terbakar mencapai 33,97 hektare. Patroli bersama pemerintah desa dan MPA terus ditingkatkan untuk mempercepat deteksi dini serta mencegah meluasnya kebakaran. []

Redaksi02 | Nadiya

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

PAMA Targetkan Penurunan Stunting 10 Persen Lewat Pemberdayaan Posyandu

PDF 📄JAKARTA – PT Pamapersada Nusantara (PAMA) memperkuat upaya percepatan penurunan stunting di wilayah binaannya …

Krisis Air Bersih Bertambah, Karawang Catat 2.585 KK Terdampak

PDF 📄KARAWANG – Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin meluas di Kabupaten Karawang (Karawang), …

Puskesmas Nguter Perkuat Deteksi Dini TB dan Pertahankan Capaian Stunting

PDF 📄SUKOHARJO – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Nguter akan melakukan pelacakan (tracing) kasus tuberkulosis (tuberculosis/TB) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *