Penglipuran Bidik 5.000 Wisatawan per Hari Lewat Festival Budaya

BANGLI – Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, menargetkan kunjungan 4.500 hingga 5.000 wisatawan per hari selama pelaksanaan Penglipuran Village Festival XIII pada 9–11 Juli 2026. Target tersebut diiringi penguatan konsep pariwisata berbasis masyarakat yang mengedepankan pelestarian budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi warga.

Festival tahunan itu menjadi bagian dari strategi Desa Adat Penglipuran untuk memperkuat posisi sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Beragam kegiatan disiapkan, mulai dari pertunjukan seni tradisional, parade budaya, lomba gebogan, hingga aktivitas edukatif yang melibatkan masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bendesa Desa Adat Penglipuran Wayan Budiarta menegaskan perkembangan desa wisata tersebut berangkat dari komitmen masyarakat dalam menjaga adat, budaya, dan lingkungan, bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata.

“Pariwisata kami tumbuh dari kehidupan masyarakat. Kami tidak meninggalkan nilai-nilai adat untuk mengejar wisata, tetapi justru menjadikan budaya yang hidup sebagai fondasi pengembangan desa wisata berbasis masyarakat,” ujarnya, sebagaimana dilansir Swa, Kamis (09/07/2026).

Menurutnya, masyarakat menjadi pelaku utama dalam menghadirkan pengalaman wisata yang autentik melalui layanan homestay, pertunjukan budaya, kegiatan edukasi, hingga pemandu wisata yang seluruhnya dikelola warga.

“Kami ingin wisatawan memperoleh pengalaman, bukan hanya melihat keindahan desa. Mereka bisa tinggal di homestay, mengikuti aktivitas budaya, hingga memahami cara masyarakat menjaga tradisi dan lingkungan,” katanya.

Budiarta menjelaskan festival juga menjadi ruang bagi seniman, komunitas lokal, dan pelaku UMKM untuk mempromosikan karya serta produk unggulan desa. Tahun ini, kegiatan mengusung konsep Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn yang diterjemahkan sebagai aktivitas untuk dilakukan, atraksi untuk dinikmati, produk untuk dibeli, dan pengetahuan untuk dipelajari.

“Festival ini merupakan bentuk eksistensi desa adat, wadah kreativitas masyarakat, sekaligus ruang bagi seniman dan UMKM untuk berkembang. Penglipuran tidak pernah berhenti berinovasi,” ujarnya.

Penyelenggaraan festival didukung Pemerintah Daerah, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), serta sektor perbankan dengan anggaran sekitar Rp600 juta. Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kemenpar Dwi Marhen Yono turut mengapresiasi konsistensi Penglipuran dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat.

Bagi Penglipuran, berbagai penghargaan nasional maupun internasional bukan menjadi tujuan utama. Pengelola desa menegaskan keberlanjutan hutan bambu, pelestarian adat, dan keterlibatan masyarakat tetap menjadi fondasi pengembangan desa wisata ke depan.

“Harapan kami sederhana, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan fisik Penglipuran, tetapi juga merasakan harmoni kehidupan masyarakat yang kami jaga hingga hari ini. Itulah nilai yang ingin kami wariskan melalui festival ini,” tutupnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Suka Damai Jadi Lokasi Edukasi Gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan

PDF 📄BENER MERIAH – Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang dilaksanakan dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) …

Desa Sindangmandi Jadi Andalan Serang pada Lomba Posyandu Tingkat Banten

PDF 📄SERANG – Desa Sindangmandi, Kecamatan Baros, ditetapkan sebagai wakil Kabupaten Serang dalam Lomba Posyandu …

Posyandu ILP di Kampung Ramsai Fokus Tingkatkan Deteksi Dini Penyakit

PDF 📄WAY KANAN – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Way Tuba terus memperluas akses pelayanan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *