PONOROGO – Pemanfaatan teknologi benih jagung menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas pertanian di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Melalui panen raya di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, pemerintah, perusahaan swasta, dan petani menunjukkan kolaborasi untuk memperkuat produksi jagung nasional menuju swasembada pangan.
Kegiatan panen raya tersebut digelar Bayer Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan dengan melibatkan kelompok tani Desa Pijeran. Program ini menekankan penerapan inovasi pertanian modern agar petani mampu meningkatkan hasil produksi secara efisien dan berkelanjutan.
Acara itu dihadiri Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq, Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Ponorogo Lisdyarita, Plt. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Ponorogo Masun, Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo Rido Kurnianto, Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia Aditia Rusmawan, serta perwakilan petani setempat.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan peningkatan hasil produksi menjadi faktor penting dalam menghadapi keterbatasan lahan dan perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian.
“Penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan tanam. Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Kabarika, Rabu (08/07/2026).
Data produksi menunjukkan jagung nasional mengalami peningkatan. Pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan mencapai sekitar 0,24 juta hektare atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen juga diperkirakan meningkat menjadi 1,38 juta ton.
Sebagai salah satu wilayah penghasil jagung utama di Jawa Timur, Ponorogo memiliki potensi besar dalam mendukung kebutuhan pangan nasional. Pada 2025, luas panen jagung di wilayah tersebut mencapai sekitar 39.046 hektare dengan produksi 284.242 ton atau rata-rata produktivitas 7,28 ton per hektare.
Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita menyampaikan bahwa penguatan kerja sama lintas sektor terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian daerah. Menurutnya, inovasi teknologi menjadi bagian penting agar petani mampu menghadapi tantangan produksi ke depan.
Salah satu penerapan teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah penggunaan varietas benih jagung hibrida Dekalb DK19C. Hasil evaluasi di Desa Pijeran menunjukkan benih tersebut memiliki performa agronomi yang baik dalam mendukung peningkatan hasil panen petani.
Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia Aditia Rusmawan mengatakan inovasi pertanian harus mampu memberikan manfaat langsung bagi petani.
“Bagi Bayer, inovasi pertanian harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik. Penggunaan benih jagung DK19C menunjukkan bagaimana inovasi berbasis sains dapat diterapkan secara nyata di lapangan untuk mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan.”
Aditia juga menyampaikan Bayer akan memperkenalkan benih jagung Dekalb DK19S dan DK09S yang dilengkapi teknologi perlindungan tanaman terhadap sejumlah hama serta toleransi terhadap herbisida tertentu.
Dari sisi ekonomi, penggunaan benih inovatif dinilai mampu memberikan keuntungan tambahan bagi petani melalui hasil panen yang lebih optimal. Rendemen tinggi dan kadar air rendah saat panen juga membantu mengurangi biaya pengeringan sehingga meningkatkan efisiensi usaha tani.
Miswanto, petani jagung asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo mengatakan, “Sejak menggunakan benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman lebih seragam, tongkolnya lebih bagus, dan hasil panennya meningkat. Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer, juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan.”
Kolaborasi antara pemerintah, pemerintah daerah, sektor swasta, dan petani diharapkan dapat memperkuat ekosistem pertanian modern sekaligus mempercepat pencapaian target swasembada jagung nasional melalui peningkatan produktivitas berbasis inovasi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara