KOTAWARINGIN TIMUR – Ritual Tiwah yang diikuti sembilan kepala keluarga di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), menjadi wujud penghormatan mendalam masyarakat Dayak kepada leluhur sekaligus upaya menjaga warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman. Prosesi sakral tersebut berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan mencapai puncaknya pada 22 Juni 2026.
Ritual adat yang digelar di kawasan Kilometer 40 Desa Pundu itu melibatkan pengangkatan dan pembersihan tulang-belulang 30 almarhum sebagai bagian dari tahapan pengantaran arwah menuju Lewu Tatau, yang diyakini sebagai surga dalam ajaran Hindu Kaharingan.
Selain menjadi bentuk penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang telah meninggal, Tiwah juga mempererat hubungan kekeluargaan melalui semangat gotong royong. Seluruh keluarga terlibat dalam persiapan upacara, mulai dari penyediaan perlengkapan adat hingga hewan kurban yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.
Salah seorang panitia sekaligus keluarga peserta Tiwah, Berto, mengungkapkan bahwa prosesi tersebut menyimpan makna emosional yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Terharu, bahkan sampai menangis. Tapi di sisi lain kami juga bahagia, karena ini adalah rangkaian terakhir kami untuk mengabdikan kasih sayang kepada almarhum,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Bakabar, Minggu (21/06/2026).
Menurut Berto, pembersihan tulang-belulang merupakan simbol penyucian sebelum arwah melanjutkan perjalanan menuju alam keabadian.
“Maknanya adalah membersihkan tulang-belulang agar perjalanan beliau menuju surga menjadi lebih mudah. Semua keluarga ikut terlibat, mulai dari anak, cucu, menantu hingga keluarga besar,” katanya.
Rangkaian Tiwah akan dilanjutkan dengan penempatan tulang-belulang ke dalam sandung, yakni rumah penyimpanan tulang khas Dayak, pada 23 Juni 2026. Tahapan tersebut menjadi penutup prosesi penghormatan kepada leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Desa Pundu, Tiwah tidak hanya menjadi ritual keagamaan dan adat, tetapi juga sarana menyampaikan doa agar para leluhur memperoleh tempat terbaik di alam baka sekaligus memohon keselamatan bagi keluarga yang masih hidup.
“Harapan kami semoga almarhum bisa sampai ke Lewu Tatau, sementara kami yang ditinggalkan diberikan kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan rezeki yang baik,” tutur Berto.
Keberlangsungan Tiwah menunjukkan komitmen masyarakat Dayak dalam menjaga identitas budaya sekaligus mewariskan nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan gotong royong kepada generasi berikutnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara