DENPASAR – Sekehe Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana dari Banjar Anyar-Anyar, Desa Ubung Kaja, Kota Denpasar, berhasil mencuri perhatian penonton pada Utsawa Gong Kebyar Wanita dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Penampilan yang memadukan tabuh, tari, dan vokal tersebut mendapat apresiasi karena dinilai mampu menghadirkan pesan budaya, filosofi kehidupan, hingga semangat patriotisme dalam satu sajian yang utuh.
Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, Sabtu (20/6/2026) malam, GKW Swara Ratna Kencana membawakan tiga materi utama, yakni Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong, Tari Kreasi Jaran Teji, dan Sandya Gita berjudul Mati Tan Tumut Pejah.
Penampilan duta Kota Denpasar itu disaksikan langsung oleh Wakil Wali Kota (Wawali) Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali, anggota DPRD Kota Denpasar, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah.
Koordinator GKW Swara Ratna Kencana, I Nyoman Suarsa, menjelaskan bahwa seluruh materi yang ditampilkan telah dipersiapkan secara matang untuk menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga kaya akan nilai filosofis.
“Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong menggambarkan kehidupan sebagai ruang yang penuh dinamika, tempat manusia dihadapkan pada pilihan untuk menuju kemuliaan atau kehancuran sesuai hukum alam. Konsep tersebut kami tuangkan melalui permainan gamelan yang atraktif dan dinamis,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Balipuspanews, Senin (22/06/2026).
Selain mengangkat filosofi kehidupan melalui tabuh kreasi, penampilan tersebut juga menghadirkan Tari Kreasi Jaran Teji yang terinspirasi dari kisah Dewi Sekar Taji yang menyamar sebagai pria untuk mencari Raden Panji Inu Kertapati.
“Tarian ini memadukan karakter putra dan putri yang menggambarkan keberanian, perjuangan, kesetiaan, sekaligus kelembutan dalam pencarian cinta yang heroik,” kata Suarsa.
Sebagai penutup, Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah mengusung pesan patriotisme dengan mengajak generasi muda meneladani semangat perjuangan para pahlawan. Karya tersebut juga menekankan pentingnya kepemimpinan, pengetahuan, teknologi, dan ekonomi dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Suarsa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses latihan hingga pementasan yang berlangsung selama sekitar delapan bulan.
“Kami sangat bersyukur karena seluruh materi dapat dibawakan dengan maksimal. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendampingi selama kurang lebih delapan bulan proses latihan. Semoga penampilan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya Bali,” tutup Suarsa.
Wawali Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa turut mengapresiasi kualitas penampilan yang ditunjukkan para seniman muda GKW Swara Ratna Kencana. Menurutnya, karya yang disuguhkan mencerminkan kreativitas sekaligus komitmen dalam menjaga keberlanjutan seni budaya Bali.
“Tadi kita telah menyaksikan penampilan yang sangat maksimal dan luar biasa dari Sekehe Gong Kebyar Wanita Swara Ratna Kencana yang didominasi anak-anak. Garapan yang ditampilkan tidak hanya menarik dari sisi artistik, tetapi juga memiliki makna yang mendalam sesuai dengan tema yang diusung. Ini menjadi bukti bahwa semangat berkesenian dan kreativitas seniman Kota Denpasar terus berkembang serta mampu melahirkan karya-karya berkualitas yang patut kita banggakan bersama,” ujar Arya Wibawa.
Partisipasi GKW Swara Ratna Kencana dalam PKB XLVIII menjadi bukti bahwa regenerasi seniman di tingkat desa terus berjalan, sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya Bali melalui ruang ekspresi yang kreatif dan edukatif. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara