GIANYAR – Upaya pelestarian seni klasik Bali terus diperkuat melalui keterlibatan generasi muda di Desa Peliatan, Kabupaten Gianyar (Gianyar). Sanggar Gamelan Suling Gita Semara dipercaya mewakili desa sebagai Duta Parade Palegongan Klasik Khas Gianyar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026 dengan menampilkan rekonstruksi kesenian legendaris yang berkembang pada era 1960-an hingga 1970-an.
Penampilan tersebut dijadwalkan berlangsung di Gedung Ksirarnawa pada 22 Juni 2026. Persiapan dilakukan secara intensif dengan melibatkan puluhan penabuh dan penari muda asal Desa Peliatan yang menjadi bagian dari proses pewarisan seni tradisi kepada generasi penerus.
Ketua Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, I Wayan Sudiarsa, mengatakan pihaknya akan membawakan rekonstruksi Tari Legong Lasem Klasik Peliatan generasi 1969 serta rekonstruksi Tabuh Liar Samas gaya Peliatan.
“Sanggar Gamelan Suling Gita Semara akan menampilkan rekonstruksi Tari Legong Lasem Klasik Peliatan generasi tahun 1969 serta rekonstruksi Tabuh Liar Samas gaya Peliatan, yang pernah berkembang pada masa keemasan seni Palegongan di Desa Peliatan,” ujarnya, sebagaimana dilansir Tatkala, Minggu, (21/06/2026).
Menurutnya, kesenian Palegongan merupakan salah satu identitas budaya utama Desa Peliatan yang telah berkembang sejak lama dan menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Bali. Warisan tersebut bahkan pernah membawa nama desa itu tampil di panggung internasional melalui misi kesenian ke Eropa pada 1931 dalam rangkaian L’Exposition Coloniale Internationale de Paris.
“Hingga saat ini, kesenian Palegongan tetap lestari di Desa Peliatan,” kata Sudiarsa.
Kepercayaan yang diberikan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar kepada Desa Peliatan sebagai duta parade dinilai menjadi pengakuan atas konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi seni klasik sekaligus melanjutkan proses transfer pengetahuan dari para maestro kepada generasi muda.
“Pemerintah Desa Peliatan, baik desa adat maupun desa dinas, kemudian menunjuk Sanggar Gamelan Suling Gita Semara sebagai perwakilan desa untuk menyajikan keanggunan dan dinamika kesenian Palegongan Peliatan yang memiliki sejarah panjang dalam menopang peradaban budaya Bali sejak abad ke-19,” paparnya.
Selain menampilkan karya rekonstruksi, sanggar tersebut juga menghadirkan inovasi melalui penciptaan Tabuh Kreasi Palegongan berjudul “Rah Rawuh” dan Tari Kreasi Palegongan berjudul “Sulur Waringin”. Kedua karya tersebut tetap berlandaskan pakem klasik sebagai bentuk pengembangan seni yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Kepercayaan sebagai Duta Kabupaten Gianyar kami maknai sebagai kesempatan untuk memperdalam pengetahuan dan pemahaman terhadap kesenian Peliatan, khususnya Palegongan,” ungkap Sudiarsa.
Ia menjelaskan, rekonstruksi dilakukan dengan melibatkan sejumlah pewaris tradisi yang memiliki keterkaitan langsung dengan maestro Palegongan Peliatan. Para seniman senior tersebut menjadi sumber data utama dalam memastikan keaslian bentuk tari maupun tabuh yang direkonstruksi.
“Tabuh kreasi ini berpijak pada Tabuh Liar Samas, sedangkan tari kreasinya berangkat dari Tari Legong Lasem. Hal ini menjadi bukti bahwa kesenian klasik tetap terbuka untuk diamati, dieksplorasi, dan dikembangkan menjadi ungkapan artistik baru tanpa meninggalkan akar tradisinya,” ujarnya.
Program rekonstruksi dan pengembangan seni klasik tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan PKB 2026. Sanggar bersama masyarakat Desa Peliatan berkomitmen melanjutkan pelestarian berbagai kesenian klasik lainnya sekaligus memperkuat proses pewarisan budaya kepada generasi muda melalui pembelajaran, dokumentasi, dan praktik berkesenian secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara