PATI – Warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, kembali menyuarakan desakan kepada pemerintah agar segera menangani banjir rob yang telah bertahun-tahun merendam kawasan permukiman dan tambak warga. Aspirasi tersebut disampaikan melalui aksi pemasangan spanduk dan poster di lokasi yang masih tergenang air laut, Jumat (19/06/2026).
Aksi yang melibatkan puluhan warga itu dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang terus memburuk akibat jebolnya tanggul penahan air laut. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, banjir rob juga berdampak pada perekonomian masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor tambak.
Salah seorang warga, Rukmini, mengatakan kerusakan tanggul menjadi penyebab utama air laut terus masuk ke kawasan permukiman setiap kali terjadi pasang.
“Harapan kami tanggul segera diperbaiki. Kalau tanggulnya dibenahi, saat air pasang tidak sampai masuk ke permukiman seperti sekarang,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari sektor tambak kesulitan bekerja karena kawasan usaha mereka turut terdampak rob.
“Banyak warga yang biasanya bekerja di tambak sekarang kesulitan mencari penghasilan. Aktivitas ekonomi ikut terganggu,” katanya.
Ketua Rukun Tetangga (RT) 05 Rukun Warga (RW) 01 Desa Tunggulsari, Budi Amanto, menyebut sedikitnya 40 kepala keluarga terdampak banjir rob yang dalam dua tahun terakhir semakin parah.
“Ada sekitar 40 kepala keluarga yang terdampak. Kondisinya semakin berat dalam beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.
Selain perbaikan tanggul, warga juga membutuhkan bantuan air bersih dan kebutuhan pokok karena genangan rob membatasi akses serta aktivitas masyarakat. Hingga kini, bantuan yang diterima warga lebih banyak berasal dari relawan dan lembaga sosial.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat langsung kondisi warga di sini dan segera memberikan solusi,” tuturnya.
Banjir rob di Desa Tunggulsari dipicu jebolnya tanggul sepanjang sekitar 110 meter akibat terjangan gelombang Laut Jawa. Kerusakan tersebut menyebabkan air laut terus menggenangi permukiman dan tambak warga saat pasang, sebagaimana diberitakan Jurnal Pantura, Jumat (19/06/2026). Kondisi itu mendorong masyarakat berharap adanya langkah cepat pemerintah untuk memulihkan lingkungan, melindungi mata pencaharian warga, serta mencegah dampak yang lebih luas di masa mendatang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara