MAJALENGKA – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mulai melaksanakan Sensus Ekonomi (SE) 2026 dengan menerjunkan 1.278 petugas lapangan untuk mendata seluruh aktivitas usaha hingga akhir Agustus 2026. Pendataan ini diperkuat dengan peluncuran Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) yang menyasar tiga wilayah percontohan guna meningkatkan kualitas data desa sebagai dasar perencanaan pembangunan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka, Yanti Heryanti, mengatakan Sensus Ekonomi 2026 menjadi agenda penting untuk menghadirkan data ekonomi yang mutakhir dan komprehensif bagi kebutuhan pembangunan daerah.
“Sensus Ekonomi 2026 harus menjadi legacy tentang data ekonomi terkini dan terlengkap tahun 2026,” ujar Yanti saat kegiatan pencanangan komitmen bersama pelaksanaan SE 2026 dan Desa Cantik di Pendopo Majalengka, Rabu (17/06/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Jabar, Rabu (17/06/2026).
Menurut Yanti, pelaksanaan sensus tersebut merupakan amanat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik yang mewajibkan pelaksanaan sensus ekonomi setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka enam. SE 2026 menjadi pelaksanaan sensus ekonomi kelima setelah sebelumnya digelar pada 1986, 1996, 2006, dan 2016.
Ia menjelaskan, perubahan pola bisnis akibat perkembangan teknologi informasi membuat pemerintah membutuhkan data ekonomi yang akurat dan terkini untuk mendukung penyusunan kebijakan pembangunan maupun perencanaan usaha.
“Perubahan kondisi perekonomian perlu diukur secara akurat dan real time agar dapat menjadi acuan pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan membantu pelaku usaha dalam perencanaan bisnis,” katanya.
Pendataan lapangan berlangsung sejak 15 Juni hingga akhir Agustus 2026. Sebanyak 1.278 petugas yang terdiri atas Petugas Pencacah Lapangan (PPL) dan Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) melakukan pendataan secara door to door menggunakan aplikasi berbasis Android atau Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI). Sementara itu, pelaku usaha besar dan menengah mengisi data secara mandiri melalui sistem Computer Assisted Web Interviewing (CAWI).
BPS Majalengka juga menggandeng ketua rukun tetangga (RT) dalam pengembangan sistem Economic Geotagging (Ecotag) untuk memperkuat akurasi data usaha di lapangan.
Selain sensus ekonomi, BPS Majalengka meluncurkan Program Desa Cantik 2026 di Kelurahan Simpeureum, Desa Tenjolayar, dan Desa Karayunan di Kecamatan Cigasong. Program tersebut difokuskan pada peningkatan literasi statistik aparatur desa serta penguatan tata kelola data desa agar mampu menghasilkan data berkualitas untuk mendukung pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Yanti mengajak seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam pendataan dengan memberikan informasi yang benar serta lengkap kepada petugas.
“Mari kita sukseskan Sensus Ekonomi dengan TIR, yaitu Terima petugas SE2026, Isi data dengan benar, dan Rahasia data terjaga,” ujarnya.
BPS juga menegaskan bahwa seluruh data responden dijamin kerahasiaannya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan dukungan data yang akurat melalui SE 2026 dan Desa Cantik, pemerintah diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat dalam merancang kebijakan pembangunan ekonomi dan desa secara berkelanjutan.
“Datalah secara objektif dan akurat dengan penuh integritas, jangan ada yang terlewat. Data ini akan mencerminkan kondisi ekonomi Majalengka untuk Majalengka langkung sae,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara