PAMEKASAN – Warga di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menghadapi gangguan lingkungan akibat tumpukan sampah yang terus menggunung di kawasan permukiman pesisir. Kondisi tersebut memicu meningkatnya populasi nyamuk pada malam hari hingga membuat warga harus menyiapkan berbagai perlindungan untuk menghindari gigitan serangga.
Tumpukan sampah yang membentang sekitar 50 meter di kawasan padat penduduk itu terdiri atas limbah rumah tangga dan sampah plastik yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Selain mengganggu kebersihan lingkungan, keberadaan sampah juga menimbulkan dampak langsung terhadap kenyamanan warga sekitar.
Salah seorang warga, Hisairi, mengaku serangan nyamuk menjadi persoalan yang hampir setiap malam dirasakan masyarakat setempat.
“Kalau malam, nyamuknya luar biasa menyerang. Tapi kami sudah kebal,” kata Hisairi, sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat (22/05/2026).
Menurutnya, jumlah nyamuk meningkat seiring bertambahnya volume sampah di sekitar permukiman.
“Obat nyamuk dan cairan anti nyamuk kita siapkan setiap malam. Sebab, selain banyak, nyamuknya juga berukuran besar,” ujarnya.
Hisairi menjelaskan kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meski terdapat larangan membuang sampah di lokasi tersebut, warga masih menjadikannya sebagai tempat pembuangan karena minimnya alternatif pengelolaan sampah.
“Ya mau gimana lagi, semua warga membuang sampah ke sini dan tidak bisa dilarang,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut hingga kini belum ditemukan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang menimpa warga sekitar akibat keberadaan nyamuk tersebut.
“Seolah warga di sini sudah kebal. Selama ini aman,” ujarnya.
Menurut Hisairi, sebagian sampah memang dibakar oleh warga, namun upaya tersebut dinilai tidak mampu mengurangi volume sampah secara signifikan karena penambahan sampah baru terus terjadi setiap hari.
“Sebagian ada yang dibakar tapi hanya sebagian,” tutur Hisairi.
Ia juga menilai langkah pembersihan yang pernah dilakukan belum memberikan hasil maksimal.
“Ya percuma kalau begitu. Sampah malah makin bertambah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan, Supriyanto, mengatakan lokasi penumpukan sampah berada di lahan milik Syahbandar Branta sehingga penanganannya tidak sepenuhnya menjadi kewenangan DLH.
“Di sana bukan kewenangan kami. Meski kami sudah beberapa kali melakukan kerja bakti,” ujar Supriyanto.
Menurutnya, persoalan sampah di Desa Branta Pesisir telah beberapa kali dibahas di internal DLH. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana kembali berkoordinasi dengan pihak Syahbandar guna mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif.
“Kita akan coba bersurat ke Syahbandar di atasnya. Kita akan ajak kerja sama dalam pengelolaan sampah ini,” kata Supriyanto.
Warga berharap adanya langkah konkret dari pihak terkait agar persoalan sampah yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut dapat segera ditangani, sehingga dampak lingkungan dan gangguan kesehatan di kawasan pesisir Branta dapat diminimalkan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara