MANGGARAI – Program pemberdayaan petani muda berbasis pertanian cerdas iklim mulai menunjukkan hasil nyata di Kabupaten Manggarai. Sebanyak 209 pemuda yang tergabung dalam 11 kelompok tani di enam desa berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan memperoleh pendapatan hingga puluhan juta rupiah per musim panen melalui proyek Green Skills yang dijalankan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama RYTHM Foundation.
Keberhasilan tersebut ditandai dengan pelaksanaan panen raya di Desa Timbu, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menandai satu tahun implementasi proyek Green Skills: Empowering Young Farmers for Climate-Smart Agriculture atau Pemberdayaan Petani Muda Melalui Pertanian Cerdas Iklim.
Direktur Program Plan Indonesia Ida Ngurah mengatakan panen raya menjadi bukti bahwa generasi muda desa memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi hijau dan pertanian berkelanjutan.
“Ketika dibekali dengan keterampilan hijau, pendampingan, dan akses pasar, mereka mampu meningkatkan pendapatan, menjaga lingkungan, serta membangun masa depan komunitas yang berkelanjutan.”
Menurut Ida, hasil hortikultura yang diproduksi petani muda kini telah menjangkau pasar yang lebih luas sehingga memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.
Selain menjadi ajang perayaan hasil panen, kegiatan tersebut juga menjadi sarana promosi produk pertanian kepada masyarakat, pelaku usaha, serta calon mitra potensial guna membuka peluang kerja sama jangka panjang.
Ia menjelaskan proyek Green Skills hadir untuk menjawab berbagai tantangan di wilayah pedesaan, mulai dari degradasi lingkungan akibat praktik pertanian konvensional, tingginya angka pengangguran pemuda, ketimpangan gender, hingga urbanisasi karena terbatasnya peluang ekonomi di desa.
“Proyek Green Skills Manggarai hadir untuk menjawab berbagai tantangan seperti degradasi lingkungan akibat praktik pertanian konvensional, ketimpangan gender, tingginya pengangguran pemuda, serta urbanisasi akibat terbatasnya peluang ekonomi di desa,” jelas Ida, sebagaimana diwartakan Ekorantt, Jumat (22/05/2026).
Melalui pendekatan pertanian berkelanjutan yang responsif gender, para pemuda desa mendapatkan pelatihan teknis pertanian cerdas iklim serta berbagai keterampilan hijau untuk meningkatkan daya saing mereka di sektor pertanian.
Selama satu tahun pelaksanaan program, sebanyak 209 petani muda terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan kapasitas. Berkat peningkatan keterampilan dan akses pasar, kelompok-kelompok tersebut mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp40 juta dalam setiap musim panen, tergantung jenis komoditas dan skala usaha yang dijalankan.
Program ini juga memperkuat tata kelola pertanian desa melalui pembentukan Komite Green Skills yang melibatkan unsur pemuda, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lokal lainnya. Dari seluruh peserta, sebanyak 43 orang terpilih sebagai youth champions atau duta pemuda yang berperan sebagai mentor sebaya dan penggerak praktik pertanian berkelanjutan di komunitas masing-masing.
Ketua RYTHM Foundation Datin Sri Umayal Eswaran menegaskan bahwa perubahan yang berkelanjutan harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
“Masyarakat diberdayakan untuk membentuk masa depan mereka sendiri dengan martabat dan kemandirian.”
Ia menambahkan bahwa keberhasilan petani muda dalam membangun pengetahuan, kepercayaan diri, dan peluang ekonomi melalui pertanian cerdas iklim menjadi fondasi penting bagi pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Tentunya sambil menghasilkan pendapatan serta memperkuat kerja sama di dalam komunitas mereka.”
Ke depan, sinergi antara organisasi pembangunan, pemerintah desa, kelompok tani, dan pelaku pasar diharapkan semakin memperluas praktik pertanian ramah lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi generasi muda di wilayah pedesaan Manggarai. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara