Transmigrasi Jadi Fondasi Pembentukan Wilayah di Bangka Selatan

BANGKA SELATAN Program transmigrasi di Kabupaten Bangka Selatan (Basel) dinilai menjadi salah satu faktor utama pembentukan wilayah baru sekaligus penggerak ekonomi masyarakat sejak pertama kali dijalankan pada 1982. Kawasan transmigrasi yang semula berupa permukiman baru kini berkembang menjadi sentra pertanian, perkebunan, hingga peternakan yang menopang kebutuhan pangan daerah.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Basel, Ade Hermawan, mengatakan keberadaan kawasan transmigrasi memberi dampak besar terhadap perkembangan desa dan kecamatan di Basel. Bahkan, sebagian besar desa di Kecamatan Pulau Besar terbentuk dari pengembangan program tersebut.

“Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan tidak terlepas daripada desa-desa baru dan pemukiman-pemukiman baru lewat program transmigrasi,” kata Ade Hermawan.

Ia menjelaskan, program transmigrasi turut membantu pemerataan penduduk dan membuka aktivitas ekonomi baru di wilayah yang sebelumnya minim penghuni. Kawasan transmigrasi kini berkembang menjadi desa produktif dengan berbagai sektor usaha masyarakat.

Menurut Ade, kawasan transmigrasi juga berperan penting menjadikan Basel sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Desa Rias dan Desa Batu Betumpang, misalnya, berkembang menjadi sentra produksi padi yang menopang ketahanan pangan daerah.

“Sebaran sejak tahun 1982 kita tersebar di empat kecamatan yang ada penempatan transmigrasi,” jelas Ade sebagaimana diberitakan Bangka Pos, Kamis (14/05/2026).

Penempatan transmigrasi pertama di Basel dilakukan pada 1982 di Desa Rias, Kecamatan Toboali. Saat itu, warga transmigran berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang ditempatkan di kawasan pertanian baru. Program tersebut kemudian berkembang ke Kecamatan Pulau Besar, Kecamatan Air Gegas, dan Kecamatan Simpang Rimba.

Selain pertanian padi, kawasan transmigrasi di Simpang Rimba berkembang di sektor perkebunan dan peternakan. Warga setempat mengembangkan usaha kelapa sawit, peternakan sapi, kambing, hingga produksi telur sesuai karakter lahan yang tersedia.

Sementara itu, Desa Sidoarjo di Kecamatan Air Gegas dan Desa Fajar Indah di Kecamatan Pulau Besar tumbuh menjadi kawasan hortikultura dengan komoditas jagung, sayuran, serta kopi yang menjadi sumber penghasilan masyarakat desa.

Ade menambahkan, harga gabah kering panen yang mencapai Rp6.500 per kilogram turut membantu meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat ekonomi masyarakat transmigrasi dalam beberapa tahun terakhir.

Meski memberikan dampak positif terhadap pembangunan daerah, Pemkab Basel masih menghadapi kendala membuka kawasan transmigrasi baru akibat keterbatasan lahan dan keberadaan kawasan hutan industri. Penempatan transmigrasi terakhir dilakukan pada 2006 di kawasan Bukit Anda, Desa Rias, dengan 73 kepala keluarga dari luar Bangka dan masyarakat lokal.

“Sampai sekarang belum ada penempatan baru karena kita terhambat dengan lokasi dan kawasan,” ucapnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Jembatan Garuda Jadi Penopang Akses Pertanian dan Ekonomi Pedesaan PPU

PDF đź“„PENAJAM PASER UTARA – Akses warga menuju lahan pertanian dan pusat kegiatan ekonomi di …

Bantuan Bibit hingga Pemeriksaan Kesehatan Warnai Kunjungan Bupati Karo

PDF đź“„KARO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo menghadirkan pelayanan terpadu bagi masyarakat Kecamatan Kutabuluh melalui …

Ngaben Kinembulan Desa Adat Kubu Berlangsung Lancar hingga Malam Hari

PDF đź“„BANGLI – Sebanyak 106 jenazah mengikuti rangkaian Pitra Yadnya Ngaben Kinembulan yang digelar secara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *