LARANTUKA – Aparat gabungan terus memperketat pengamanan di dua desa yang terlibat konflik di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan mengerahkan 157 personel guna mencegah bentrokan susulan dan menjaga situasi tetap kondusif pascakerusuhan yang menghanguskan sejumlah rumah warga.
Personel Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) NTT melakukan patroli menyusuri permukiman hingga area kebun warga di Desa Narasaosina dan Desa Waiburak pada Selasa (12/5/2026). Selain melakukan penjagaan, aparat juga berdialog dengan warga dan mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah rumah yang terbakar akibat konflik masih dipasangi garis polisi. Aktivitas warga di kedua desa juga terlihat terbatas, sementara sebagian masyarakat memilih bertahan di depan rumah masing-masing.
Wakil Bupati (Wabup) Flotim Ignasius Boli Uran meminta kedua kepala desa aktif meredam situasi dan mengajak masyarakat menahan diri agar konflik tidak kembali pecah.
“Masing-masing harus menahan diri, Jangan lagi ada konflik, titik. Tidak boleh ada lagi, perang itu tidak menghasilkan pemenangan, yang ada hanya kehancuran dan dendam darah,” tegasnya saat pertemuan di Kantor Camat Adonara Timur, Senin (11/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Wabup Flotim juga meminta masing-masing pihak menyiapkan dokumen sejarah hak ulayat yang menjadi dasar klaim tanah untuk mempermudah proses penyelesaian sengketa.
“Siapakan sejarah masing-masing, sejarah tentang klaim kalau iti hak ulayat Bele dan sejarah tentang klaim kalau iti hak ulayat Lewonara, Pada saatnya nanti, kita tentukan berapa jumlah orangnya supaya kita bertemu,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Komandan Kompi (Wadanki) 1 Batalyon B Pelopor Polda NTT Simon Hedo mengaku prihatin terhadap dampak konflik terhadap masa depan anak-anak di dua desa tersebut, terutama dalam bidang pendidikan.
“Masalah anak-anak, mereka ini punya masa depan, kami sangat prihatin dengan anak-anak, apalagi ada program dari program Bapak Presiden untuk utamakan anak-anak bangsa untuk pendidikan, lalu sampai bapak mereka berbuat begini, bagaimana masa depan anak-anak, itu yang harus diperhatikan,” ujarnya sebagaimana dilansir Pos Kupang, Selasa (12/05/2026).
Ia juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan adanya upaya provokasi yang dapat memicu konflik baru.
“Kalau ada pihak tertentu untuk upaya provokasi, Lapor, jangan sembunyi-sembunyi, ini tanggung jawab moral kita bersama,” ujarnya.
Pengamanan di wilayah konflik melibatkan personel bantuan kendali operasi (BKO) Brimob Ende, BKO Brimob Kupang, BKO Penjinak Bom (Jibom) Brimob, personel Kepolisian Resor (Polres) Flotim, jajaran kepolisian sektor (polsek), serta personel Komando Rayon Militer (Koramil) 1624-02 Adonara guna memastikan kondisi keamanan tetap terkendali. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara