TANA PASER – Anjloknya harga rumput laut hingga menyentuh kisaran Rp2.000 per kilogram di Desa Maruat, Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, justru memicu transformasi ekonomi warga dari sekadar petani bahan mentah menjadi pelaku industri olahan berbasis hilirisasi yang mulai berkembang dan terorganisir.
Kondisi fluktuasi harga tersebut membuat Pemerintah Desa Maruat bersama masyarakat mengubah strategi ekonomi dengan mendorong pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Kepala Desa (Kades) Maruat Syahrudin menyebutkan, produksi rumput laut di wilayahnya tetap melimpah, bahkan mencapai ratusan ton dalam bentuk kering, namun tekanan harga membuat petani tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah.
“Bahan baku rumput laut kami di Maruat ini berlimpah. Bahkan yang dikirim ke luar daerah bisa mencapai ratusan ton rumput laut kering. Namun harga di pasaran saat ini hanya sekitar Rp2.000 sampai Rp2.200 per kilogram, jauh dari harga normal yang bisa mencapai Rp7.000,” terang Syahrudin melalui sambungan telepon sebagaimana diwartakan Tribun Kaltim, Senin (11/05/2026).
Perubahan pola ekonomi tersebut kemudian melahirkan inisiatif Galeri Seharum Idaman yang menjadi pusat pengolahan berbagai produk turunan rumput laut. Warga mulai memproduksi aneka olahan seperti keripik, kerupuk, amplang, stik, dodol, sirup, selai, es krim, hingga minuman herbal berbasis rumput laut.
Menurut Syahrudin, strategi ini tidak hanya menyerap hasil panen petani, tetapi juga membuka peluang usaha baru di tingkat rumah tangga. Selain itu, sebagian petambak juga mulai menerapkan sistem polikultur dengan menggabungkan budidaya ikan dan udang dalam satu tambak untuk menjaga stabilitas pendapatan.
“Inovasi ini membuat masyarakat tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mendapatkan nilai tambah dari produk olahan,” ujarnya.
Meski proses produksi masih dilakukan secara tradisional mulai dari panen, pencucian, pengeringan, hingga pengolahan di rumah warga, Desa Maruat kini mulai dikenal sebagai salah satu sentra inovasi produk rumput laut di Kabupaten Paser. Salah satu produk unggulan, yakni dodol rumput laut, bahkan telah mewakili daerah dalam ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kalimantan Timur.
Dari perspektif ekonomi desa, langkah hilirisasi ini dinilai menjadi titik balik penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi lokal di tengah tekanan harga komoditas. Pemerintah desa bersama masyarakat berharap pengembangan industri olahan ini dapat memperluas pasar sekaligus memperkuat identitas produk lokal Paser di tingkat regional.
Jika konsistensi pengembangan ini terus berlanjut, Desa Maruat berpotensi menjadi model pengelolaan ekonomi berbasis komoditas pesisir yang tidak hanya bergantung pada bahan mentah, tetapi juga pada inovasi dan pengolahan berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara