KLUNGKUNG – Objek wisata sejarah Goa Jepang di Desa Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali, kini mengalami penurunan jumlah pengunjung hingga membuat kawasan tersebut tampak terbengkalai. Minimnya pengelolaan dan kurangnya perhatian terhadap fasilitas wisata disebut menjadi penyebab destinasi itu semakin ditinggalkan wisatawan.
Kawasan wisata yang berada di jalur utama Banjarangkan menuju Gianyar itu sebelumnya sempat dikelola Desa Adat Koripan Tengah. Namun, pengelolaan dihentikan setelah tidak mampu menutupi biaya operasional akibat sepinya pengunjung.
Di area wisata tersebut masih terdapat sejumlah fasilitas seperti rest area, gazebo, tempat bermain anak, toilet umum, hingga stasiun pengisian kendaraan listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Meski demikian, sebagian fasilitas kini terlihat tidak terawat dan jarang digunakan.
Wakil Bendesa Adat Koripan Tengah, Wayan Ardana mengatakan kondisi wisata Goa Jepang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir karena tidak adanya dukungan anggaran maupun investor yang serius mengembangkan kawasan tersebut.
“Sepi. Tidak ada yang datang. Sempat bertahan satu tahun. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi,” terangnya sebagaimana diwartakan Detikbali, Minggu (10/05/2026).
Menurutnya, Desa Adat Koripan Tengah sebelumnya mengajukan permohonan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung agar dapat mengelola kawasan tersebut sebagai sumber pendapatan desa adat. Namun, pengelolaan tidak berjalan maksimal karena keterbatasan biaya operasional.
“Tapi gulung tikar juga. Nggak kuat karena memang pengunjungnya sepi,” jelasnya.
Selain persoalan pengunjung, Ardana menyebut kawasan wisata itu juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Beberapa bagian lokasi bahkan mengalami longsor dan kebersihan area lebih banyak ditangani secara gotong royong oleh masyarakat desa adat.
“Kondisinya ya begini. Sudah beberapa kali longsor juga di sana. Trotoar yang kotor, kita dari desa adat yang gotong royong membersihkannya,” ungkap Ardana.
Kawasan Goa Jepang sebelumnya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah di Klungkung. Lokasi tersebut juga pernah menjadi tempat berdirinya Museum Patung Sukanta Wahyu sebelum akhirnya meredup setelah pematung tersebut meninggal dunia.
Warga setempat yang akrab disapa Mangku mengatakan lokasi wisata itu dulunya merupakan jalur lama peninggalan era kolonial sebelum ditutup setelah pembangunan jembatan baru.
“Ini dulu jalan yang sudah ada sejak zaman Belanda. Kemudian ditutup setelah ada jembatan baru,” terangnya.
Meski memiliki nilai sejarah dan fasilitas penunjang wisata, suasana kawasan yang sepi dan kurang terawat membuat wisatawan hanya singgah sebentar tanpa masuk lebih jauh ke area Goa Jepang. Desa Adat Koripan Tengah berharap adanya pihak ketiga yang bersedia kembali mengelola kawasan tersebut agar destinasi wisata sejarah itu dapat hidup kembali. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara