BMC Gresik, Bukti Desa Bisa Ubah Sampah Jadi Cuan

GRESIK – Transformasi lahan pembuangan sampah menjadi kawasan ekowisata mangrove di Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, menjadi contoh nyata kolaborasi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dengan masyarakat dalam mendorong pelestarian lingkungan sekaligus peningkatan ekonomi desa.

Program ini digagas melalui dukungan Perusahaan Gas Negara (PGN) Saka lewat Saka Indonesia Pangkah Ltd (SIPL) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), yang mengajak warga mengelola lahan bekas limbah menjadi Banyuurip Mangrove Center (BMC). Inisiatif ini sejalan dengan upaya dekarbonisasi menuju net zero emission (NZE) 2060, sebagaimana dilansir Energindo, Minggu (03/05/2026).

Awalnya, kawasan tersebut merupakan lokasi pembuangan limbah kulit kerang dan sampah rumah tangga yang berlumpur serta berbau. Ketua Rukun Nelayan Banyuurip, Ainurrafiq, mengungkapkan kondisi awal lahan yang tidak layak.

“Lokasi ini sebelumnya berupa lumpur. Apalagi kalau hujan turun, lumpurnya luar biasa melimpah dan berbau busuk,” kata Ainurrafiq.

Kepala Desa (Kades) Banyuurip, Ihsanul Haris, menambahkan bahwa perubahan dimulai dari inisiatif warga yang didukung perusahaan dan pemerintah.

“Warga beramai-ramai membuang limbah kulit kerang dan sampah rumah tangga ke lokasi ini,” ungkap Ihsanul.

Seiring waktu, kawasan tersebut dibersihkan dan dikembangkan menjadi pusat pembibitan sekaligus ekowisata mangrove. Dukungan pembinaan dan pelatihan dari PGN Saka mendorong terbentuknya sejumlah kelompok seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

“Kita belum tahu bagaimana pembibitan Mangrove, PGN Saka memfasilitasi upaya pendidikan pembibitan Mangrove,” ujar Ihsanul.

Program ini juga mendapat pengakuan pemerintah daerah. Pada 2020, kawasan mangrove Banyuurip ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) melalui keputusan gubernur, dengan sebagian area masuk wilayah desa setempat.

Dari sisi ekonomi, pengelolaan BMC memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat, khususnya nelayan. Aktivitas pembibitan, penanaman, hingga wisata mangrove menjadi sumber pendapatan alternatif.

“Bibit mangrove dapat dijual,” ujarnya.

Namun, aktivitas wisata sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 yang membuat fasilitas terbengkalai. Saat ini, upaya revitalisasi tengah dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dan berbagai pemangku kepentingan.

“Kita bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Pariwisata. Perusahaan memiliki strategi untuk merevitalisasi ekowisata ini secara bersama-sama dengan stakeholders serta pemerintah setempat,” tuturnya.

Selain dampak ekonomi, program ini juga berkontribusi pada peningkatan keanekaragaman hayati dan penurunan emisi karbon melalui rehabilitasi mangrove. Ke depan, BMC diharapkan kembali menjadi destinasi unggulan sekaligus pusat edukasi lingkungan berbasis masyarakat. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Banjir Sungai Batang Tembesi Lumpuhkan Desa, Pemulihan Dipercepat

PDF đź“„MERANGIN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin, Jambi, mempercepat pemulihan dampak banjir di Desa Pulau …

Edukasi Sampah Jadi Aksi Nyata, Warga Desa Sumberbendo Ikut Bergerak

PDF đź“„PROBOLINGGO – Upaya meningkatkan kesadaran kebersihan lingkungan di tingkat desa terus digencarkan melalui peran …

Warga Kedungpring Buang Sampah Sembarangan, Pemdes Bertindak Tegas

PDF đź“„LAMONGAN – Pemerintah Desa (Pemdes) Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, mengambil langkah tegas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *