VIETNAM – Pemanfaatan warisan budaya kelompok etnis minoritas di Provinsi Lao Cai, Vietnam, menjadi strategi utama dalam mendorong pengembangan pariwisata berbasis komunitas sekaligus meningkatkan ekonomi lokal melalui industri budaya yang berkelanjutan.
Langkah ini dilakukan dengan mengintegrasikan pelestarian budaya tradisional dan pengembangan produk wisata, seiring dengan penyesuaian administratif dan penguatan kebijakan budaya daerah. Lao Cai yang dihuni 34 kelompok etnis memanfaatkan potensi seperti sawah terasering Mu Cang Chai, situs sejarah nasional, warisan budaya takbenda yang diakui United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), serta ratusan festival tradisional sebagai daya tarik wisata.
Penguatan budaya dilakukan hingga tingkat akar rumput melalui pembentukan klub seni dan budaya di setiap komune dan kelurahan. Program ini mendorong pelestarian tradisi seperti nyanyian Then, permainan alat musik Tinh, hingga ritual adat yang diwariskan lintas generasi.
Pengrajin Hoang Tuong Lai dari desa Xuan Lai, komune Yen Thanh, menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya lokal. “Kecintaan saya pada budaya etnis, yang dipupuk oleh lagu pengantar tidur ibu saya, telah memotivasi saya untuk mengumpulkan, menerjemahkan, menggubah lirik baru, dan mempraktikkan melodi rakyat. Setiap orang perlu menghargai akar budayanya, melestarikan, dan menyebarkan nilai-nilai budaya tradisional kepada generasi mendatang.”
Kebijakan pemerintah daerah turut memperkuat langkah ini dengan memberikan dukungan pendanaan awal bagi pembentukan klub budaya serta alokasi anggaran tahunan untuk aktivitas seni dan partisipasi dalam berbagai acara. Selain itu, pengembangan kuliner tradisional dari puluhan hidangan khas juga dijadikan bagian dari produk wisata.
Pendekatan serupa juga diterapkan di Provinsi Tuyen Quang yang memiliki lebih dari 40 kelompok etnis dengan ratusan warisan budaya takbenda dan festival tradisional. Pemerintah daerah setempat mengembangkan puluhan model desa wisata berbasis komunitas yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan aktivitas ekonomi pariwisata.
Wakil Direktur Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Tuyen Quang, Ma Thi Thao, menyebutkan bahwa kontribusi pariwisata budaya etnis mencapai sekitar 70 persen dari total pendapatan pariwisata daerah.
“Pendapatan dari pariwisata budaya etnis saat ini mencapai sekitar 70% dari total pendapatan pariwisata provinsi. Untuk lebih mengembangkan budaya etnis menjadi produk industri budaya, dalam waktu dekat, provinsi akan membangun pusat konservasi dengan fungsi lengkap seperti pengajaran kerajinan tradisional; mendesain kostum brokat yang terkait dengan pariwisata; menyelenggarakan ruang pameran tentang budaya setiap kelompok etnis; dan mengembangkan seni pertunjukan dan kuliner untuk melayani wisatawan.”
Kebijakan nasional melalui Resolusi Nomor 80/NQ-TW tanggal 7 Januari 2026 turut menjadi landasan dalam mengoptimalkan sumber daya budaya sebagai pendorong pembangunan berkelanjutan, dengan menempatkan warisan budaya sebagai inti pengembangan industri budaya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa integrasi antara pelestarian budaya dan pariwisata tidak hanya menjaga identitas lokal, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana dilansir Nhandan, Senin, (27/04/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara