DEMAK – Ratusan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak (Demak) diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Insiden yang terjadi sejak Sabtu (18/4/2026) ini membuat puluhan korban harus mendapat perawatan di fasilitas kesehatan dan memicu penghentian sementara operasional dapur MBG setempat.
Kepala Puskesmas Kebonagung Arief Setiawan menyatakan sejumlah korban sempat ditangani di puskesmas dengan gejala mual, muntah, dan pusing.
“Yang di Puskesmas Kebonagung beberapa dari korban yang mengalami mual, mutah, pusing. Puskesmas (merawat) lima orang, tapi kondisi setelah stabilisasi boleh pulang, sehingga hanya rawat jalan,” kata Arief saat ditemui di Puskesmas Kebonagung, Minggu (19/4/2026), sebagaimana dilansir Detikjateng, Senin, (20/04/2026).
Selain penanganan di puskesmas, sebagian korban dirujuk ke sejumlah rumah sakit, yakni Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Gubug, RS Getas Pendowo, dan RS Sultan Fatah Karangawen. Data sementara menunjukkan korban mencapai ratusan orang yang berasal dari beberapa pondok pesantren (ponpes) serta kelompok rentan B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita).
Arief merinci jumlah korban di antaranya dari Ponpes Bustanul Quran sebanyak 68 orang, Ponpes Asnawiyah 97 orang, serta sejumlah korban lain dari Ponpes Hidayatul Mubtadiin, Ponpes Al Maarif, dan lembaga pendidikan lainnya.
“Ponpes Bustanul Quran jumlah 68 orang terdiri dari 33 orang berobat jalan di ponpes, rujuk di dua RS PKU Gubug 23 orang dan Getas Pendowo 12 orang,” ungkap Arief.
“Ponpes Asnawiyah 97 orang, terdiri dari 67 orang berobat jalan, 24 orang dirujuk di Getas Pendowo dan PKU gubug 6 orang,” lanjutnya.
Seiring kejadian tersebut, dapur MBG milik Yayasan Khidmatul Ummah Madani di Desa Pilangwetan ditutup sementara dan dipasangi garis polisi. Penghentian operasional dilakukan sambil menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan penyebab keracunan.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Demak Muzani Ali Shodiqin membenarkan kebijakan penghentian sementara tersebut.
“Betul, ditutup sampai ada surat lagi,” Kata Muzani saat ditemui di SPPG Yayasan Khidmatul Ummah Madani, Minggu (18/4/2026).
Ia menjelaskan, menu MBG yang diduga menjadi pemicu terdiri dari nasi goreng, telur ceplok, tahu goreng, acar timun wortel, buah jeruk, dan susu yang didistribusikan kepada 1.484 penerima manfaat. Dari jumlah tersebut, sekitar 110 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan, dengan 95 di antaranya sempat dirawat di rumah sakit.
“Jadi empat sekolah ini itu totalnya 550 (porsi), tetapi yang kena gejala ada 110 (orang), yang masuk, dibawa ke rumah sakit itu 95 (orang),” ungkap Muzani.
Meski demikian, Muzani menegaskan bahwa operasional dapur MBG telah mengikuti standar operasional prosedur (standard operating procedure atau SOP), termasuk kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
“Sudah, secara SOP sudah dipenuhi semua,” kata Muzani.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Asnawiyyah Cholilullah mengungkapkan gejala mulai dirasakan santri sejak Sabtu malam.
“Malam itu juga sudah ada yang mulai muntah berak, kemudian pusing, bahkan ada yang sesak. Nah, kemudian ada santri yang kita larikan ke (Rumah Sakit) Getas Pendowo Gubug, itu ada satu orang tadi malam karena sesak dan mual,” kata Choilullah saat ditemui di PPTQ Asnawiyyah, Minggu (19/4/2026).
Ia menyebut jumlah korban baru diketahui meningkat pada keesokan harinya setelah muncul laporan serupa dari pesantren lain di sekitar wilayah tersebut.
“Kemudian ketika pagi, baru kita tahu loh ternyata yang sakit itu banyak. Dari situ kemudian ada informasi dari ustazah bahwa dia menyimpulkan ini kemungkinan besar ini dari MBG,” ujar Choilullah.
“Nah, dari situ kita mulai konfirmasi-konfirmasi ternyata saya tanya-tanya ke pesantren sekitar itu juga ternyata sama, jadi kasusnya banyak yang keracunan,” lanjutnya.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih dalam proses penyelidikan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan segera menemukan sumber masalah guna mencegah kejadian serupa, sekaligus memastikan program MBG tetap aman bagi masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara