MAGELANG – Pemerintah mempercepat perluasan sistem irigasi perpompaan untuk mendongkrak produktivitas pertanian, khususnya di wilayah lahan kering yang selama ini hanya mampu panen satu kali dalam setahun. Program ini diklaim mampu mengubah pola tanam petani menjadi dua hingga tiga kali panen melalui optimalisasi manajemen air berbasis pompa.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan penguatan program irigasi perpompaan (irigasi perpompaan (Irpom)) menjadi strategi kunci dalam meningkatkan produksi pangan nasional tanpa harus terus membuka lahan baru. “Kebijakan ini menjadi kunci dalam mendorong peningkatan produksi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perluasan lahan baru,” kata Mentan dalam keterangan di Jakarta, Jumat sebagaimana diwartakan Antara, Jumat (17/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Desa Banyurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4), di mana ia meninjau langsung penerapan pompanisasi yang telah berjalan di lapangan.
Di Desa Banyurip, sistem irigasi perpompaan berkapasitas 5.000 liter telah dimanfaatkan untuk mengairi sekitar 20 hektare lahan pertanian. Program tersebut disebut berhasil meningkatkan intensitas tanam petani dari satu kali menjadi hingga tiga kali dalam setahun.
“Ini sangat kreatif, di mana pompanisasi di sini sudah jalan. Yang dulu panen satu kali, menjadi tiga kali. Kenapa? Karena pompanya sudah dipasang,” ujar Mentan.
Ia menegaskan keberhasilan tersebut akan diperluas secara nasional agar lahan-lahan kering atau upland di berbagai daerah dapat mengalami peningkatan produktivitas serupa melalui pemasangan sistem pompa air.
“Harapan kita seluruh Indonesia, tanah-tanah lahan kering atau daerah upland, yang panen satu kali bisa menjadi dua kali, tiga kali karena kita akan pasang pompa,” katanya.
Untuk mendukung percepatan program, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan alokasi anggaran besar hingga Rp5 triliun. Dana tersebut ditargetkan mampu menjangkau sekitar 1 juta hektare lahan pertanian.
“Kami sudah anggarkan sampai Rp5 triliun untuk pompanisasi. Kalau kita bisa jangkau 1 juta hektare, berarti produksi 6 ton saja, berarti kenaikan 6 juta ton gabah,” katanya.
Selain pompanisasi, pemerintah juga menjalankan strategi lain seperti cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa sebagai bagian dari peningkatan produksi pangan nasional. Kombinasi kebijakan tersebut diklaim telah mendorong kenaikan produksi hingga 13 persen atau sekitar 4 juta ton.
“Inilah langkah-langkah kita tempuh sehingga produksi naik tajam, yaitu 13 persen atau 4 juta ton,” ungkapnya.
Mentan juga menjelaskan konsep Luas Tambah Tanam (LTT) sebagai pendekatan utama intensifikasi pertanian, yaitu meningkatkan frekuensi tanam di lahan yang sama hingga tiga kali dalam satu tahun.
“Ini namanya Luas Tambah Tanam (LTT). Jadi, lahan tetap, tapi luas tanamnya yang bertambah. Bisa potensi tiga kali tanam dalam satu hektare,” katanya.
Ia menambahkan, perluasan LTT hingga 2 juta hektare berpotensi meningkatkan produksi gabah secara signifikan hingga 12 juta ton.
Sebagai langkah percepatan di daerah, pemerintah pusat akan memanggil kepala daerah yang memiliki potensi pengembangan LTT untuk memastikan dukungan infrastruktur pengairan tersedia.
“Nanti kita cek semua. Yang butuh pompa, Insya Allah hari Senin (20/4) kami putuskan. Kami undang Pak Bupati ke Jakarta. Dananya sudah siap. Ini perintah Bapak Presiden,” kata Amran. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara