NGADA – Desa wisata adat megalitik Bena di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mencuri perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara berkat keaslian budaya dan lanskap alamnya yang masih terjaga ratusan tahun di kaki Gunung Inerie.
Desa Bena yang dikenal sebagai kampung adat berarsitektur megalitik tersebut menjadi salah satu destinasi budaya paling ikonik di Flores karena memadukan panorama alam perbukitan dengan tradisi leluhur yang masih hidup di tengah masyarakat. Perjalanan menuju lokasi biasanya ditempuh setelah mengunjungi Wae Rebo dengan waktu sekitar 5–6 jam, namun jalur tersebut diakui wisatawan tetap menyenangkan karena suguhan panorama Pulau Flores yang dramatis berupa bukit hijau dan langit cerah yang membentang sepanjang perjalanan.
Setibanya di lokasi, wisatawan langsung disambut deretan rumah adat yang tersusun melingkar di atas perbukitan. Desa ini berdiri tepat di bawah Gunung Inerie yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tempat bersemayamnya Dewa Yeta, sosok pelindung yang dipercaya secara turun-temurun. Keyakinan tersebut masih dijaga kuat hingga kini dan menjadi bagian penting dari identitas spiritual warga Bena.
Desa Bena memiliki sekitar 40 hingga 50 rumah adat yang masing-masing menampilkan simbol tanduk kerbau di bagian depan rumah sebagai penanda jumlah hewan kurban dalam ritual adat. Tradisi ini menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat dengan warisan leluhur yang tetap dipertahankan meski zaman terus berubah.
Aktivitas wisata di desa ini juga unik karena tidak memberlakukan tiket masuk. Wisatawan hanya diminta mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela untuk mendukung pelestarian kampung adat. Kebijakan ini membuat Bena tetap mempertahankan konsep wisata berbasis komunitas tanpa menghilangkan nilai budaya yang ada.
Selain kehidupan adat, aktivitas ekonomi masyarakat didominasi pertanian dan kerajinan tenun tradisional. Perempuan Bena masih aktif menenun kain khas Flores secara manual dengan waktu pengerjaan bisa mencapai tiga bulan. Kain tenun tersebut dijual dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta, sementara produk syal tersedia di kisaran Rp75 ribu hingga Rp100 ribu tergantung motif dan tingkat kesulitan.
Keunikan budaya ini menarik minat wisatawan asing, terutama dari Jerman dan Italia yang datang untuk mempelajari warisan megalitik serta kehidupan tradisional masyarakat setempat. Desa Bena kerap disebut sebagai ruang hidup yang mempertahankan jejak sejarah manusia purba dalam bentuk budaya yang masih aktif hingga kini.
Keaslian budaya dan lanskap alam Desa Bena dinilai menjadi daya tarik utama yang menjadikannya salah satu destinasi unggulan wisata budaya Indonesia.
Dengan kombinasi nilai sejarah, tradisi adat, dan panorama alam, Desa Bena terus memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon wisata budaya yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga sarat makna historis dan spiritual bagi masyarakat lokal maupun dunia. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara