Bumil di Desa Paham Gizi, Tapi Praktiknya Masih Jadi Tantangan

PANDEGLANG – Meskipun edukasi gizi bagi ibu hamil (Bumil) di desa telah berjalan rutin melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), penerapan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari masih menghadapi tantangan, terutama terkait kebiasaan dan keterbatasan ekonomi di tingkat rumah tangga.

Fenomena ini terlihat di sebuah desa di kaki Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang, di mana kondisi lingkungan sebenarnya mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Lahan pertanian yang subur, ketersediaan sayur dan buah di pekarangan, serta sumber protein dari ikan dan ternak menjadikan desa ini relatif tidak kekurangan bahan pangan.

Setiap bulan, Bumil secara rutin memeriksakan kehamilan di Posyandu yang dikelola bersama oleh tenaga kesehatan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), bidan desa, dan kader kesehatan. Dalam kegiatan tersebut, edukasi mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang terus disampaikan secara berulang.

Berdasarkan pengamatan dan percakapan dengan sejumlah Bumil, pemahaman mengenai pentingnya gizi sebenarnya sudah cukup baik. Mereka mengetahui kebutuhan asupan seperti protein, sayur, dan buah selama masa kehamilan.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik. Dalam kehidupan sehari-hari, pilihan makanan kerap disesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kebiasaan yang telah berlangsung lama.

Makanan seperti gorengan, ikan asin, dan produk instan seperti mi instan masih menjadi pilihan utama karena dinilai lebih praktis dan terjangkau. Sementara itu, potensi pangan lokal yang tersedia di sekitar rumah belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber makanan bergizi.

Padahal, sebagian masyarakat telah menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat dilakukan dengan baik melalui pengolahan sederhana tanpa biaya besar. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada ekonomi, tetapi juga pada kebiasaan dan pola konsumsi yang sudah mengakar.

Upaya intervensi sebenarnya telah dilakukan melalui berbagai program, mulai dari penyuluhan rutin di Posyandu, kunjungan rumah oleh bidan desa, hingga pemberian bantuan makanan bergizi. Peran kader kesehatan juga cukup aktif dalam mendampingi masyarakat.

Meski demikian, perubahan perilaku konsumsi membutuhkan waktu dan pendekatan yang lebih kontekstual dengan kondisi masyarakat. Pengetahuan yang dimiliki Bumil belum sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan di dapur rumah tangga.

Situasi ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih aplikatif dan sederhana agar edukasi gizi tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang lebih dekat dengan realitas masyarakat desa, diharapkan perubahan pola konsumsi dapat terjadi secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga kesehatan ibu dan anak dapat lebih terjamin. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Destinasi Api Tak Kunjung Padam Lesu, Pedagang Berharap Libur Idul Adha

PDF 📄PAMEKASAN – Lesunya kunjungan wisatawan ke destinasi Api Tak Kunjung Padam di Desa Larangan …

Pemkab Kubu Raya Bidik Batu Ampar Jadi Magnet Wisata Alam

PDF 📄KUBU RAYA destinasi wisata unggulan, ekonomi masyarakat, pengembangan pariwisata, lingkungan mangrove, wisata alam Kalbar …

Dapat Bantuan CSR, Pesona Garda Siap Jadi Destinasi Unggulan Kabupaten Semarang

PDF 📄KABUPATEN SEMARANG – Pengembangan Desa Wisata (Deswita) Pesona Garda di Dusun Dawung, Desa Candirejo, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *