TULUNGAGUNG – Upaya pelestarian tradisi lokal di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, terus digaungkan oleh seorang tokoh masyarakat, Sunarko Budiman, yang aktif menjaga keberlangsungan nilai budaya di tengah arus modernisasi yang kian kuat.
Sunarko dikenal sebagai sosok yang konsisten merawat identitas desa melalui berbagai cara, mulai dari dokumentasi sejarah hingga pelestarian ritual adat. Salah satu kontribusinya adalah penulisan buku berjudul Ndhudhah-ndhudhuk Sejarah Asal Desa Balerejo, yang disusun berdasarkan riset panjang sejak 1993 dengan melibatkan para sesepuh desa berusia di atas 70 tahun.
“Buku ini saya tulis berdasarkan penelusuran sejak tahun 1993 dari orang-orang sepuh usia 70 tahun ke atas agar generasi anyar tidak kehilangan jati diri desanya,” tuturnya.
Bagi Sunarko, penulisan sejarah bukan sekadar pencatatan peristiwa, melainkan upaya menjaga kesinambungan identitas desa agar tidak tergerus perubahan zaman. “Sebuah desa tanpa ingatan adalah desa yang kehilangan arah,” tambahnya.
Kedekatan Sunarko dengan masyarakat menjadi modal utama dalam memahami dinamika sosial di desa. Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari warga, termasuk mendengarkan aspirasi petani dan pelaku tradisi.
Namun demikian, ia mengaku prihatin terhadap pergeseran nilai-nilai budaya yang mulai terjadi. Beberapa ritual adat, seperti Methik Pari, dinilai mulai kehilangan makna akibat perubahan pola pikir masyarakat yang cenderung praktis.
Sebagai bentuk kepedulian, ia mengajak masyarakat untuk kembali memegang teguh pakem tradisi, termasuk penggunaan perlengkapan adat dan busana tradisional. “Ayo balik nang nggone takir apa nang nggone besek, aja panggah kardus. Pakaiannya juga begitu, ayo pakai adat seperti lurik, karena kalau sudah tidak sesuai pakem itu tidak cocok dengan hati nurani saya,” ujarnya tegas.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga urutan prosesi ritual agar tetap sesuai dengan nilai yang diwariskan leluhur. “Kudune methik dhisik, obong-obong, baru kenduri. Jangan dibalik, karena metik itu adalah awal panen sebagai bentuk syukur kepada Gusti Allah dan doa tulak balak agar petani selamat,” pesannya.
Melalui berbagai upaya tersebut, Sunarko berharap generasi muda di Desa Balerejo dapat lebih memahami dan menghargai warisan budaya sebagai bagian dari identitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara