JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat strategi hilirisasi sektor pertanian guna meningkatkan nilai tambah komoditas dan menciptakan lapangan kerja, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam transformasi ekonomi nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perubahan paradigma dari ekspor bahan mentah menuju pengolahan dalam negeri menjadi langkah utama untuk memperkuat kesejahteraan petani dan kedaulatan ekonomi.
“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” kata Mentan Amran.
Menurutnya, selama ini keuntungan terbesar justru dinikmati negara pengolah karena komoditas masih dijual dalam bentuk bahan baku. Oleh sebab itu, Kementan mendorong sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir agar petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga bagian dari rantai industri.
“Hari ini kita ubah paradigma. Petani tidak boleh hanya menjual hasil panen, tetapi harus masuk dalam rantai industri. Kita bangun dari hulu sampai hilir agar nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” ujarnya.
Sebagai implementasi, Kementan memperkenalkan konsep “pohon industri” dalam pengembangan komoditas pertanian. Pendekatan ini memetakan potensi turunan produk dari setiap komoditas, seperti kelapa, kakao, dan singkong yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi.
“Setiap komoditas punya banyak turunan. Kelapa bisa menjadi puluhan produk, kakao menjadi berbagai olahan, singkong bisa diolah menjadi tepung hingga bioetanol. Inilah yang kita sebut pohon industri,” jelasnya.
Dalam mendukung program tersebut, Kementan mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,5 triliun untuk pengembangan tujuh komoditas strategis dengan target 870 ribu hektare kebun rakyat pada periode 2025–2027. Komoditas yang menjadi fokus meliputi kelapa, kakao, kopi, jambu mete, lada, dan pala.
“Kita rancang hilirisasi melalui replanting dan tanam baru di berbagai komoditas tersebut. Dengan penguatan ini, kita optimistis mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian,” terang Mentan Amran.
Ia menambahkan, hilirisasi juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi desa dengan menciptakan peluang kerja baru, khususnya bagi generasi muda di sektor pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.
“Kalau industri pengolahan dibangun di sentra produksi, maka lapangan kerja tercipta di desa. Anak muda tidak hanya bertani, tetapi juga bisa masuk ke industri pengolahan, pemasaran, hingga ekspor. Ini masa depan pertanian kita,” katanya.
Mentan Amran menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi produsen produk bernilai tinggi jika hilirisasi dijalankan secara konsisten dan terarah.
“Kita punya bahan baku terbaik di dunia, tetapi produk jadi justru didominasi negara lain. Ini yang harus kita ubah. Hilirisasi akan memastikan Indonesia tidak hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga produsen produk bernilai tinggi,” tegasnya.
“Kami siap menjalankan arahan Presiden. Hilirisasi harus kita percepat dan kita kawal. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kedaulatan dan masa depan bangsa,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara