JAKARTA – Tradisi mudik Lebaran 1447 Hijriah pada 21 Maret 2026 ternyata bukan sekadar ritual silaturahim, tetapi juga menjadi pendorong ekonomi nasional yang signifikan. Data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat, pergerakan penumpang angkutan umum sejak H-8 atau 13 Maret 2026 hingga hari H mencapai 10.887.584 orang, naik 8,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 10.027.482 orang.
Distribusi per moda menunjukkan lonjakan signifikan. Penumpang kereta api tercatat 3.349.343 orang atau meningkat 13,46 persen, angkutan udara melayani 2.397.192 orang naik 2,95 persen, angkutan penyeberangan mencatat 2.664.004 penumpang naik 14,01 persen, dan bus melayani 1.693.931 penumpang naik 9,37 persen. Kenaikan di seluruh moda transportasi ini menegaskan bahwa mudik tidak hanya tradisi, tetapi juga mesin ekonomi yang mengalir dari kota ke desa, memperkuat distribusi ekonomi lokal.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menyebut, “Momen Ramadhan dan Idul Fitri mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 5,1 sampai 5,2 persen secara tahunan pada kuartal I 2026,” sebagaimana dilansir Antara, Minggu, (29/03/2026). Pemerintah menargetkan pertumbuhan kuartal I di kisaran 5,5–5,6 persen, dengan Lebaran sebagai salah satu mesin pendorong utama.
Belanja kebutuhan Lebaran, mulai dari pakaian, makanan khas, hingga oleh-oleh, ditambah biaya transportasi dan wisata, menciptakan perputaran uang yang masif. Desa dan kota kecil menjadi pusat aktivitas ekonomi; restoran dan pasar tradisional ramai kembali, sementara pelaku usaha kecil merasakan lonjakan transaksi. Konsumsi rumah tangga diperkirakan naik 15–20 persen dibanding periode biasa, dan peredaran uang kartal untuk Lebaran mencapai Rp1.370 triliun, naik 10,4 persen dari tahun sebelumnya.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, makanan dan minuman, serta industri halal juga merasakan dampak positif. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami peningkatan pesanan hingga empat kali lipat. Ketua Asosiasi Pengusaha Kue dan Kuliner Sumatera Selatan Bunda Rayya menyatakan, “UMKM di Palembang mulai ramai menerima pesanan hampers Lebaran sejak awal Ramadhan. Tahun ini, peningkatan pesanan mencapai 40–50 persen, dengan mayoritas konsumen dari Jabodetabek, Bandung, hingga Surabaya.”
Sektor pariwisata turut terdorong, dengan destinasi lokal seperti pantai, gunung, dan taman rekreasi padat pengunjung, membuka peluang peningkatan pendapatan daerah. Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM INDEF Nur Komaria menambahkan, efek pariwisata menjalar ke penginapan, kuliner, dan transportasi lokal, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Kelancaran mudik dan balik, didukung penambahan armada transportasi, rekayasa lalu lintas, dan peningkatan fasilitas, turut memaksimalkan mobilitas masyarakat. Kebijakan Work From Anywhere (WFA) membuat pemudik tinggal lebih lama di kampung halaman, memperpanjang perputaran ekonomi lokal. Idul Fitri 2026 membuktikan, dari tradisi mudik lahir peluang usaha yang memperkuat fondasi ekonomi nasional. []
Redaksi02 | Nadiya
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara