SEMARANG – Lonjakan kunjungan wisatawan selama libur Lebaran 1447 Hijriah di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tidak hanya menunjukkan peningkatan angka, tetapi juga menandai perubahan pola wisata masyarakat yang kini lebih mengarah pada destinasi urban dan bernilai visual tinggi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) mencatat total kunjungan wisatawan mencapai 687.470 orang selama periode H-7 hingga H+4 Lebaran 2026, atau meningkat 5,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Disbudparekraf Jateng Hanung Triyono menyebutkan bahwa tren tersebut mencerminkan pergeseran preferensi wisatawan yang kini lebih tertarik pada konsep visual tourism.
“Jumlah kunjungan selama masa libur Idulfitri tahun 2026 hingga tanggal 25 Maret menyentuh angka 687.470 jiwa. Perolehan ini merepresentasikan kenaikan sebesar 5,25 persen jika kita sandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatatkan 653.178 kunjungan,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Sumber Berita, Jumat (27/03/2026).
Ia menjelaskan, perubahan minat ini dipengaruhi oleh perkembangan media sosial yang mendorong wisatawan, khususnya generasi milenial dan Gen Z, untuk mencari destinasi dengan nilai estetika tinggi.
“Pihak kami mengamati adanya perubahan minat wisatawan yang beralih dari objek wisata alam menuju wisata bertema urban serta destinasi yang ikonik. Di samping itu, para pelancong kini lebih mengutamakan pengalaman yang memiliki daya tarik visual yang kuat,” ungkap Hanung.
Dari sembilan destinasi prioritas yang dipantau, kawasan Kota Lama Semarang menjadi lokasi dengan jumlah kunjungan tertinggi. Kawasan ini dinilai memiliki daya tarik visual melalui arsitektur kolonial, suasana klasik, serta fasilitas pendukung yang menarik bagi wisatawan.
Selain faktor tren, kondisi cuaca juga turut memengaruhi pergeseran ini. Curah hujan tinggi di sejumlah wilayah dataran tinggi membuat wisatawan cenderung menghindari destinasi alam dan memilih lokasi yang lebih aman serta memiliki fasilitas memadai.
Pemprov Jateng menilai tren ini sebagai peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata yang lebih adaptif terhadap perubahan perilaku wisatawan, sekaligus meningkatkan kualitas destinasi berbasis urban di masa mendatang. []
Redaksi02 | Nadiya
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara