Sebanyak 10 desa di Bangka Tengah masuk program Desa Devisa dengan komoditas lada putih, lidi nipah, dan olahan ikan yang diarahkan untuk memperluas akses produk desa ke pasar global.
BANGKA TENGAH – Sebanyak 10 desa di Kabupaten Bangka Tengah (Bangka Tengah) mendapat peluang memperluas pemasaran produk unggulan melalui program Desa Devisa. Program tersebut diarahkan untuk mendorong produk desa masuk ke pasar ekspor, dengan lada putih menjadi komoditas pertama yang dilepas menuju pasar global pada Sabtu, 26 September 2026.
Program Desa Devisa itu mencakup Desa Namang, Sungkap, Keretak Atas, Kurau Barat, Kebintik, Benteng, Pangkalanbaru, Kurau, Air Mesu, dan Air Mesu Timur. Kesepuluh desa tersebut menjadi bagian dari 48 titik program Desa Devisa yang dijalankan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bersama Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Peluncuran program di tingkat desa ditandai dengan pelepasan ekspor lada putih di Gedung Serba Guna Kecamatan Namang. Momentum tersebut sekaligus menjadi awal pengiriman komoditas lada putih dari wilayah desa menuju pasar global.
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman mengatakan pelaksanaan program diawali dengan kesepakatan bersama pihak pendukung program sekaligus peluncuran komoditas lada sebagai produk Desa Devisa.
“Alhamdulillah hari ini kita tadi adalah membuat MoU ya, kesepakatan dengan teman-teman dari PIP. Lalu, hari ini juga kita launching pertama kali komoditas lada yang menjadi Desa Devisa. Salah satu item produk yang memang kita sebut lada putih. Hari ini kita lepas keberangkatannya menuju pasar global,” ujar Algafry sebagaimana diberitakan BabelNews, Senin, (28/09/2026).
Selain lada putih, desa-desa yang mengikuti program tersebut mengandalkan dua komoditas lain, yakni lidi nipah dan produk olahan ikan. Pengembangan ketiga komoditas itu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan masyarakat desa sekaligus memperluas peluang usaha.
Pasar Belanda menjadi salah satu sasaran pengiriman perdana lada putih dari Bangka Tengah. Akses ke pasar luar negeri tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pemasaran komoditas yang dikembangkan melalui program Desa Devisa.
“Di antaranya negara yang siap menerima itu adalah di Netherland, Belanda. Jadi Alhamdulillah, semuanya ini berkat dukungan berbagai pihak,” jelas Algafry.
Pengembangan program juga membutuhkan dukungan dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dukungan tersebut diarahkan agar produk unggulan yang berasal dari desa dapat memenuhi target perluasan pasar.
“Kita bersyukur dari teman-teman DPJB selalu support, kemudian PIP jadi pendukung fiskal kita. Kemudian ada UMKM kita, tentu mulai dari teman-teman kepala desa, semua harus mendukung untuk kegiatan ini,” pungkasnya.
Dengan masuknya 10 desa dalam program Desa Devisa, lada putih, lidi nipah, dan olahan ikan ditempatkan sebagai komoditas yang memiliki peluang dikembangkan menuju pasar yang lebih luas. Penguatan dukungan terhadap produk-produk tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang usaha dan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa di Bangka Tengah. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara