JAKARTA – Nahdlatul Ulama (NU) dinilai memiliki modal sosial dan intelektual yang dapat diperkuat untuk menjawab persoalan umat serta tantangan peradaban, terutama melalui tradisi keilmuan dan jejaring sarjananya yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Said Abdullah mengatakan kekuatan NU tidak hanya terletak pada keberadaannya sebagai organisasi yang tumbuh dari lingkungan pesantren, tetapi juga pada nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal yang berkembang di dalamnya.
“Sebagai kekuatan subkultur, NU menjadi ruang budaya tempat nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal berproses secara organik. Praktik inilah yang menjadi kedigdayaan NU hingga hari ini,” kata Said sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (26/08/2026).
Menurut Said, kekuatan tersebut penting untuk menghadapi persoalan yang dirasakan masyarakat di tingkat akar rumput, seperti kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, serta dampak persoalan global terhadap perekonomian dan demokrasi.
Ia menilai modal sosial NU perlu terus dihidupkan agar organisasi tersebut dapat memberikan kontribusi yang lebih luas. Dalam pandangannya, proses pergantian kepemimpinan NU juga tidak semestinya berkembang menjadi persaingan pragmatis dan transaksional seperti yang kerap terjadi dalam politik.
Said menyebut NU memang memiliki akar kuat di lingkungan pesantren yang banyak berada di pedesaan. Namun, menurut dia, peran NU saat ini telah berkembang jauh melampaui komunitas desa karena memiliki jejaring intelektual dan sosial yang lebih luas.
Tradisi intelektual keislaman yang dimiliki NU, ditambah keberadaan ratusan ribu sarjana NU yang menimba ilmu di berbagai negara, dinilai menjadi modal penting untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.
Ia bahkan melihat NU telah berkembang menjadi kekuatan diasporik yang dapat mengambil bagian dalam pembahasan persoalan peradaban, tidak hanya sebagai kekuatan subkultur.
Said juga mengaitkan perkembangan tersebut dengan sejarah peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah pada abad ke-8 hingga ke-13 Masehi. Menurut dia, kemajuan peradaban pada masa tersebut tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan politik.
“Bahkan kehancuran Islam karena banyaknya pertikaian politik,” tuturnya.
Karena itu, Said mendorong NU agar tetap mengedepankan peran keumatan dan memperbesar kontribusinya terhadap penyelesaian persoalan sosial maupun peradaban. Ia juga meminta hasil Bahtsul Masail, sebagai forum musyawarah keilmuan ulama dan intelektual NU, lebih banyak dikemukakan kepada publik.
Menurut dia, pemikiran yang lahir dari forum tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga relevansi NU dari masa lalu hingga masa depan sekaligus memperkuat kapasitasnya dalam menawarkan solusi atas berbagai tantangan zaman.
“Sebagai bagian jamaah NU, yang sejak lahir, kecil hingga tumbuh dewasa di lingkungan NU, saya berharap NU teguh di jalan keteladanan moral, spiritual, dan sosial,” ungkap Said yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Timur.
Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk memperkuat kontribusi NU terhadap persoalan umat dan bangsa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara