Keris Jadi Simbol Marwah Melayu dalam Festival Sambas

SAMBAS – Festival Berindu Keris di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas menjadi upaya pelestarian budaya Melayu sekaligus sarana mengenalkan nilai sejarah dan filosofi keris kepada generasi muda. Sebanyak 21 peserta dari berbagai daerah mengikuti perlombaan yang digelar di halaman Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas, Kamis (9/7/2026), dalam rangka Hari Jadi Kota Sambas ke-395.

Perlombaan tersebut menantang peserta mendirikan sebilah keris secara tegak di atas sarungnya. Setiap peserta diberi waktu maksimal 10 menit untuk menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan, konsentrasi, dan ketenangan. Peserta dinyatakan gugur apabila keris terjatuh tiga kali, sedangkan yang mampu mempertahankan keris berdiri paling lama berhak melaju ke babak final.

Panitia dan juri lomba, Uray Budiman, mengatakan antusiasme masyarakat terus meningkat sejak festival tersebut rutin digelar dalam tiga tahun terakhir.

“Ada berjumlah 21 orang peserta yang ikut lomba merindu keris, terdiri dari peserta dari Sambas, Singkawang, Pontianak, dan luar daerah lainnya,” kata Uray Budiman, sebagaimana diberitakan Tribun Pontianak, Kamis (09/07/2026).

“Skema penilaiannya dinilai dari peserta yang paling lama mendirikannya di atas sarungnya. Dinilai dari siapa yang berhasil mendirikan keris terlama,” ucapnya.

Menurut Uray, Festival Berindu Keris tidak hanya menjadi hiburan dalam peringatan Hari Jadi Kota Sambas, tetapi juga memiliki tujuan menjaga warisan budaya Melayu agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Lomba ini semakin antusias diikuti peserta, sudah tiga tahun berturut-turut kami adakan dalam rangka HUT Kota Sambas. Tahun ini, Hari Jadi Sambas ke-395, kembali kami adakan berindu keris,” tutur Uray.

Ia menjelaskan, keris merupakan simbol marwah, adab, keberanian, kebijaksanaan, sekaligus identitas budaya masyarakat Melayu Sambas yang diwariskan secara turun-temurun.

“Merindu keris bukan hanya soal mendirikan keris, tetapi bagaimana kita memahami pesan budaya di balik pusaka itu. Di dalamnya ada nilai kesabaran, konsentrasi, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan terhadap identitas Sambas,” urai Uray Budiman.

Uray berharap festival tersebut menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal sejarah daerah dan menjaga keberadaan Keraton Alwatzikhoebillah sebagai pusat peradaban budaya Melayu Sambas.

“Anak muda Sambas harus tahu bahwa daerah ini memiliki sejarah besar. Keraton Alwatzhikhoebilah bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi pusat peradaban budaya yang harus terus dijaga. Keris adalah salah satu simbol dari peradaban itu,” pungkasnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Posyandu ILP di Kampung Ramsai Fokus Tingkatkan Deteksi Dini Penyakit

PDF đź“„WAY KANAN – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Way Tuba terus memperluas akses pelayanan …

Jembrana Percepat Reformasi Sampah, Desa Adat Jadi Mitra Utama

PDF đź“„JEMBRANA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana mempercepat reformasi pengelolaan sampah dengan mendorong pengurangan sampah …

Akses Sulit, Tim Gabungan Taklukkan Karhutla di Desa Padang Tanah Laut

PDF đź“„TANAH LAUT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas sekitar 0,7 hektare yang terjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *