Krisis Air Mengintai, Desa Kajar Perkuat Langkah Antisipasi

REMBANG Pemerintah Desa (Pemdes) Kajar, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi krisis air bersih seiring menurunnya debit sejumlah mata air pada puncak musim kemarau. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air agar kebutuhan warga tetap terpenuhi hingga musim kemarau berakhir.

Kepala Desa (Kades) Kajar, Widayat, mengatakan ketersediaan air bersih di desa masih relatif aman karena ditopang sejumlah sumber mata air, jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sumur bersama, serta hasil pengeboran yang dimanfaatkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“Untuk sekarang masih terpenuhi. Sebetulnya karena ada beberapa sumber mata air yang dimanfaatkan warga. RT 1 menggunakan PDAM, RT 2 dan RT 3 memanfaatkan sumber mata air milik desa, RT 11 menggunakan PDAM, RT 5 dan RT 6 memanfaatkan hasil pengeboran desa, RT 4 mengambil air dari gunung, sedangkan RT 7 menggunakan sumur bersama dan membeli air dari warga secara bergilir,” ujar Widayat sebagaimana diwartakan NU Online, Kamis (02/07/2026).

Meski pasokan air masih tersedia, Widayat mengingatkan warga untuk mulai mengurangi konsumsi air karena debit mata air diperkirakan terus menyusut apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

“Kalau kemarau panjang, warga harus hemat menggunakan air karena debit mata air terus berkurang. Ironisnya, Desa Kajar justru menjadi pemasok air bagi sembilan kecamatan, padahal sumber air di desa kami sendiri juga mulai berkurang,” imbuhnya.

Menurut Widayat, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) juga menghadapi kendala akibat sulitnya menemukan sumber mata air baru di wilayah desa.

“Program seperti Pamsimas juga kesulitan mencari sumber mata air. Justru sumber air berada di tanah milik warga dan harus dibeli dengan harga yang hampir sama dengan tarif PDAM,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterbatasan anggaran desa turut memengaruhi pelaksanaan pembangunan, termasuk penyediaan layanan dasar.

“Anggaran desa dipotong cukup besar. Dulu sekitar Rp800 juta, sekarang tinggal sekitar Rp200 juta. Dana itu juga harus dibagi untuk sektor kesehatan dan pendidikan,” ungkapnya.

Meski demikian, Widayat memastikan fasilitas kesehatan dan tempat ibadah tetap memperoleh layanan air bersih.

“Alhamdulillah fasilitas kesehatan dan tempat ibadah sudah terlayani. Beberapa masjid menggunakan air PDAM, sementara sebagian lainnya mendapat bantuan air dari warga,” katanya.

Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, penurunan debit mata air juga mulai memengaruhi sektor pertanian dan usaha budidaya tanaman hias yang menjadi sumber penghasilan sebagian warga.

“Dulu waktu saya masih kecil, sungai di depan rumah masih mengalir. Sekarang sudah tidak. Setelah beberapa tahun terakhir banyak pengeboran dan air dijual ke luar Kajar, potensi pertanian juga ikut menurun,” paparnya.

“Kalau sumber air lebih besar, pendapatan warga tentu akan meningkat. Harga satu kantong plastik bunga gembong merah bisa mencapai Rp50 ribu,” tuturnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemdes Kajar berharap mendapat dukungan penghijauan melalui penanaman pohon yang mampu meningkatkan cadangan air tanah.

“Kami berharap ada bantuan bibit pohon seperti sukun, kemiri, dan beringin yang mampu mengikat air sehingga debit mata air dapat meningkat,” ujarnya.

“Kalau kekeringannya tidak terlalu ekstrem, kami tidak perlu bantuan air. Rasanya tidak relevan jika Desa Kajar yang dikenal sebagai desa pemasok air justru harus menerima bantuan air bersih,” pungkasnya.

Sementara itu, Kades Selopuro, Fendi, mengatakan Pemdes Selopuro juga telah menyiapkan langkah antisipasi dengan membeli air bersih secara eceran dan menambah titik sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

“Pihak desa mengantisipasinya dengan membeli air eceran,” ucap Fendi.

“Anggaran untuk penyediaan air bersih sudah kami siapkan. Namun, hingga saat ini belum ada imbauan khusus kepada warga terkait penggunaan air bersih,” pungkasnya.

Pemdes Kajar dan Pemdes Selopuro berharap upaya penghematan air, konservasi sumber mata air, serta dukungan berbagai pihak dapat menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat selama musim kemarau berlangsung. []

Redaksi02 | Nadiya

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Pesisir Jadi Fokus, Pemerintah Bangun 1.269 Kampung Nelayan Modern

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah menargetkan pembangunan 1.269 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di berbagai daerah …

Lebak Masih Miliki 2.539 Hektare Permukiman Kumuh di 128 Desa

PDF 📄LEBAK – Sebanyak 2.539 hektare kawasan permukiman kumuh masih tersebar di 128 desa dan …

Infrastruktur Desa Semata Menguat, Jembatan Merah Putih Siap Dongkrak Ekonomi Warga

PDF 📄SAMBAS – Pembangunan Jembatan Merah Putih di Desa Semata, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *