SUMBAWA – Kemandirian energi yang dibangun warga Desa Tangkam Pulit, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi penopang aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat di wilayah pedalaman yang hingga kini belum terjangkau jaringan listrik negara.
Melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang dikelola secara swadaya, sebanyak 1.253 penduduk desa dapat menikmati penerangan setiap malam. Keberadaan pembangkit berbasis aliran sungai tersebut tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga mendorong pertumbuhan usaha mikro dan meningkatkan produktivitas warga.
Desa yang berada di kawasan pegunungan Batulanteh dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut itu menghadapi tantangan akses yang cukup berat. Jarak menuju ibu kota Kabupaten Sumbawa sekitar 60 kilometer, namun perjalanan dapat memakan waktu hingga 10 jam karena kondisi jalan yang masih berupa tanah, berbatu, berlumpur, serta harus melintasi sungai tanpa jembatan.
Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat membangun dan mengelola PLTMH secara mandiri sejak sekitar satu dekade lalu dengan memanfaatkan sumber daya air yang melimpah di kawasan hutan lindung setempat.
“Sudah puluhan tahun kami gunakan PLTMH sebagai sumber listrik utama,” kata Sulman, sebagaimana dilansir Kompas, Rabu, (24/06/2026).
Sebelum listrik tersedia, warga hanya mengandalkan lampu minyak tanah untuk penerangan malam hari. Kondisi itu membatasi aktivitas masyarakat setelah matahari terbenam.
“Dulu malam hari cepat sekali sepi. Begitu matahari terbenam, semua kegiatan harus berhenti,” ujarnya.
Kini, listrik memungkinkan berbagai aktivitas berlangsung lebih lama. Anak-anak dapat belajar pada malam hari, sementara pelaku usaha rumahan memiliki waktu lebih panjang untuk menjalankan kegiatan ekonomi.
“Sejak ada PLTMH, malam tak lagi gelap gulita. Kami bisa beraktivitas sampai larut, anak-anak bisa belajar dengan nyaman, dan yang paling penting usaha kami bisa berjalan lebih lancar,” katanya.
Keberadaan listrik juga mendukung pengembangan berbagai sektor usaha masyarakat, mulai dari pengolahan kopi, hasil perkebunan, hingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) rumah tangga. Biaya penggunaan listrik relatif terjangkau, yakni sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per rumah setiap bulan, bahkan sebagian warga hanya membayar sekitar Rp10 ribu untuk biaya perawatan sistem.
“Biayanya sangat ringan, tidak memberatkan. Uang itu kami gunakan untuk menjaga agar pembangkit tetap berfungsi dan membayar petugas yang berjaga,” jelas Sulman.
PLTMH di desa tersebut beroperasi mulai pukul 18.00 hingga 06.00 Wita. Untuk kebutuhan siang hari, sebagian warga memanfaatkan baterai yang telah diisi sebelumnya atau menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara mandiri sebagai sumber energi alternatif.
“Kalau PLTMH sedang bermasalah, sinar matahari PLTS menjadi andalan cadangan, tapi tak semua warga punya PLTS,” kata Sulman.
Meski memberikan manfaat besar, pengelolaan pembangkit masih menghadapi sejumlah kendala. Usia peralatan yang semakin tua, penurunan debit air saat musim kemarau, serta sulitnya memperoleh suku cadang menjadi tantangan utama yang harus dihadapi masyarakat.
“Kalau rusak, suku cadang harus dipesan dari luar daerah dan butuh waktu lama. Untungnya, tenaga ahli untuk memperbaikinya sudah ada dari warga sendiri yang sudah terlatih,” ujarnya.
Hingga saat ini, jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum menjangkau wilayah tersebut sehingga masyarakat tetap bergantung pada sistem yang mereka bangun sendiri.
“Sampai saat ini, jaringan listrik dari PLN belum menjangkau dusun kami. Kami masih mengandalkan apa yang kami bangun sendiri,” kata Sulman.
Ke depan, warga berharap sistem pembangkit dapat dikembangkan menjadi energi hibrida dengan mengombinasikan tenaga air dan tenaga surya agar pasokan listrik lebih stabil serta mampu mendukung pertumbuhan ekonomi desa secara berkelanjutan.
“Kami sangat butuh dukungan agar sistem ini bisa dikembangkan. Kalau digabungkan dengan PLTS, kami yakin hasilnya akan jauh lebih baik dan bisa menopang usaha kami lebih besar lagi,” harapnya.
Kemandirian energi yang dibangun masyarakat Tangkam Pulit menunjukkan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal dapat menjadi solusi bagi wilayah terpencil sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan warga desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara