JAKARTA – Pengembangan desa wisata berbasis jamu dan layanan wisata kesehatan menjadi fokus kolaborasi antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dan Kementerian Pariwisata. Sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa sekaligus mendorong Indonesia menjadi destinasi wisata kesehatan berdaya saing internasional.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar bertemu Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana guna membahas penguatan desa wisata jamu dan percepatan pengembangan wisata medis (medical tourism) Indonesia. Pertemuan itu menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengintegrasikan sektor kesehatan, obat dan makanan, serta pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam pertemuan tersebut, BPOM menyatakan kesiapan mendukung program Kementerian Pariwisata melalui penguatan pengawasan keamanan, mutu, dan khasiat produk obat bahan alam, pangan olahan, serta penggunaan obat dalam layanan wisata kesehatan.
Taruna Ikrar menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan desa wisata berbasis kesehatan dan kearifan lokal. Saat ini terdapat sekitar 6.261 desa wisata di Indonesia yang terdiri atas 36 desa mandiri, 330 desa maju, 1.015 desa berkembang, dan 4.880 desa rintisan.
Potensi tersebut dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila didukung produk pangan lokal, jamu, dan obat tradisional yang memenuhi standar keamanan dan kualitas.
“Desa wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga dapat menjadi pusat pengembangan produk jamu, herbal, dan pangan lokal yang aman serta bernilai ekonomi tinggi. BPOM siap melakukan pendampingan agar produk-produk tersebut memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Taruna Ikrar, sebagaimana diberitakan Harian Fajar, Selasa (23/06/2026).
BPOM sebelumnya telah melakukan pendampingan pada sejumlah desa wisata berbasis jamu, antara lain Desa Wisata Jamu Kiringan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Desa Wisata Wonolopo di Kota Semarang, serta Kampung Agrowisata Bukit Herbal di Kabupaten Sumba Timur. Pendampingan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk herbal sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis kesehatan.
Selain desa wisata, kedua pihak juga membahas percepatan pengembangan wisata medis (medical tourism) di sejumlah kawasan strategis nasional. BPOM berperan dalam menjamin ketersediaan obat dan produk kesehatan melalui mekanisme Skema Akses Khusus (Special Access Scheme/SAS) untuk mendukung layanan kesehatan tertentu.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu menghadirkan ekosistem wisata kesehatan yang aman, terpercaya, dan berstandar internasional. Pengembangan desa wisata jamu serta layanan kesehatan modern dinilai dapat membuka peluang usaha baru, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat desa di berbagai daerah. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara