BOYOLALI – Keberhasilan Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kopi Barendo menjadi contoh nyata pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal desa. Berawal dari kelompok tani yang hanya menjual hasil panen mentah, kini kopi khas desa tersebut mampu menjadi produk bernilai tambah sekaligus menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah.
Kopi Barendo merupakan produk unggulan Desa Banyuanyar yang berasal dari kopi robusta varietas Tugusari. Produk ini lahir dari upaya masyarakat desa mengolah hasil perkebunan sendiri menjadi bubuk kopi siap konsumsi guna meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Pengelola Kedai Kopi Barendo, Widodo, menjelaskan bahwa kopi telah menjadi bagian dari sejarah panjang Desa Banyuanyar sejak masa kolonial Belanda. Nama Barendo sendiri diambil dari istilah lokal yang memiliki keterkaitan dengan sejarah keberadaan kopi di wilayah tersebut.
“Barendo merupakan singkatan dari Lebare Londo (setelah Belanda). Nama itu dipilih karena kopi di daerah kami sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan, kakek buyut saya pernah bekerja di perkebunan kopi milik orang Belanda,” kata Widodo, sebagaimana diwartakan Tribunnews, Senin, (22/06/2026).
Menurut pemerhati sejarah dan budayawan Boyolali, Mas Koes, tanaman kopi mulai berkembang di kawasan Ampel sejak awal abad ke-19 melalui perkebunan yang dibangun pengusaha Belanda Johannes Augustinus Dezentje atau Tinus Dezentje.
“Ampel menjadi pusat perkebunan kopi saat itu. Bahkan, beliau Tinus Dezentje hidup hingga meninggal di Ampel ini,” jelasnya.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui keberadaan pohon kopi berusia ratusan tahun yang tumbuh di sejumlah wilayah Desa Banyuanyar. Selain itu, kopi lokal desa tersebut dikenal memiliki aroma khas menyerupai buah nangka sehingga sering disebut kopi nangka.
Perjalanan Kopi Barendo sebagai UMKM dimulai pada 1998 ketika 22 petani membentuk Kelompok Tani Sumber Agung Satu. Selama bertahun-tahun, hasil panen hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah hingga akhirnya pada 2022 muncul gagasan untuk mengembangkan unit pengolahan kopi desa.
“Dari organisasi dibuat unit pengolahan Kopi Barendo. Jadi, kopi itu kita tanam sendiri, kita petik sendiri, sampai kita olah menjadi bubuk siap minum. Tujuan utamanya ingin berbicara ke pihak luar bahwa desa kita punya kopi,” tegas Widodo.
Pada awal pengembangan usaha, kelompok tani menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai teknik roasting atau sangrai kopi. Namun, proses belajar secara mandiri dan pendampingan dari rekan-rekan pelaku usaha kopi membantu mereka menguasai keterampilan tersebut.
“Setiap beliau datang ke rumah, saya minta tolong untuk belajar. Belajar dari teman jadi enggak bayar,” katanya sambil tertawa.
Kini, Kopi Barendo mampu memproduksi lebih dari 50 kilogram bubuk kopi per bulan dengan omzet sekitar Rp7,5 juta. Produk tersebut dipasarkan dalam berbagai kemasan dan juga disajikan langsung di kedai kopi yang menjadi bagian dari destinasi wisata desa.
“Untuk omzet, dalam satu bulan berkisar di angka Rp7,5 juta,” ujar Widodo.
Perkembangan UMKM ini turut mendukung lahirnya Desa Wisata Edukasi Kampung Susu dan Kopi (Kampus Kopi) yang dibangun Pemerintah Desa (Pemdes) Banyuanyar sejak 2022. Kepala Desa (Kades) Banyuanyar, Komarudin, menyebut pengembangan kopi dan susu menjadi fondasi utama dalam membangun wisata berbasis agro-eco-edu tourism.
“Kami bangun dulu kampung-kampung UMKM sejak 2018. Diawali kampung kopi, kampung jahe, dan kampung susu yang potensinya sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur dia.
Saat ini, Desa Banyuanyar memiliki 18 kampung UMKM unggulan yang tersebar di sembilan dukuh. Capaian tersebut turut mengantarkan desa masuk dalam daftar 15 desa terbaik nasional pada program Desa BRILiaN tahun 2024.
Keberhasilan desa tersebut juga mendapat perhatian Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, yang berkunjung langsung ke Desa Banyuanyar bersama Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria.
“Suatu kebanggaan tersendiri bagi kami, Kopi Barendo sudah pernah dikunjungi oleh Bapak Menteri Desa. Beliau tidak sekadar mencicipi kopi, tapi juga benar-benar menikmati,” kata Widodo.
Dalam kunjungannya, Yandri menilai Desa Banyuanyar memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui pengelolaan sumber daya lokal yang terintegrasi dengan sektor wisata dan ekonomi masyarakat.
“Ini desa kaya potensi. Baru lewat saja sudah kelihatan, ada kopi, ada susu. Tinggal bagaimana kita kelola dengan serius,” harapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan ekonomi berbasis desa sejalan dengan Asta Cita pembangunan nasional.
“Ini sejalan dengan Asta Cita ke-6, membangun dari desa dan dari bawah. Jadi bukan cuma slogan, tapi benar-benar dijalankan,” tegas Yandri.
Sementara itu, Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati, menyatakan program Desa BRILiaN tidak hanya berfokus pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tetapi juga mendorong penguatan pelaku UMKM desa melalui pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades).
“Mereka adalah penggiat produk unggulan, kita menyebutnya Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan),” kata Evi dalam keterangannya.
“Program Desa BRILiaN ada untuk mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan,” urai Evi.
Keberhasilan Kopi Barendo menunjukkan bahwa pengelolaan potensi lokal yang dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat, inovasi produk, dan pengembangan wisata mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara