BANYUWANGI – Penguatan pembangunan Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, kini diarahkan pada model pengelolaan desa berbasis keberlanjutan yang mengintegrasikan sektor lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan pariwisata. Fokus tersebut menjadi strategi utama Pemerintah Desa (Pemdes) Bayu dalam memperkuat kemandirian desa di wilayah lereng Gunung Raung.
Perubahan arah pembangunan itu dipimpin oleh Kepala Desa (Kades) Bayu, Yulia Herlina, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Sejak terpilih melalui Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak Kabupaten Banyuwangi pada Oktober 2023 dan dilantik pada Desember 2023, ia mengarahkan kebijakan desa pada sektor strategis yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Pemdes Bayu menjadikan kawasan hutan sebagai salah satu fokus utama pengelolaan. Mengingat sebagian wilayah desa berbatasan langsung dengan kawasan hutan negara, Pemdes Bayu memperkuat kerja sama dengan Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat.
Sinergi tersebut difokuskan pada penguatan pengawasan kawasan hutan, pencegahan kerusakan lingkungan, serta pemanfaatan lahan secara legal yang tetap memberikan ruang ekonomi bagi warga sekitar. Pendekatan ini juga diarahkan untuk memperkuat konsep ekonomi hijau di tingkat desa.
Selain sektor lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat turut menjadi prioritas melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu komoditas unggulan yang terus didorong adalah kopi robusta khas Songgon yang dikelola petani lokal.
Produk kopi tersebut dikembangkan sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai tambah ekonomi masyarakat desa, sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM agar lebih kompetitif di tingkat regional.
Di bidang pendidikan, Pemdes Bayu memperkuat perhatian terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kepala Desa Bayu secara rutin melakukan pemantauan ke lembaga pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga sekolah dasar untuk memastikan layanan pendidikan berjalan optimal.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat akses pendidikan yang merata serta meningkatkan kualitas generasi muda desa. Ia menekankan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan daya saing masyarakat di masa depan.
Sementara itu, sektor pariwisata juga dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi desa. Kawasan Rowo Bayu yang memiliki nilai sejarah terkait Perang Puputan Bayu menjadi salah satu destinasi unggulan yang terus ditata dan dikembangkan.
Pengembangan wisata tersebut dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan kawasan hutan lindung di sekitarnya, sehingga konsep wisata berbasis sejarah dan alam dapat berjalan beriringan dengan konservasi.
“Menurut Yulia Herlina, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan masyarakat desa. Karena itu, ia berharap seluruh warga Desa Bayu minimal dapat menempuh pendidikan hingga jenjang SMA dan memiliki kompetensi yang lebih unggul dibanding lulusan SMA pada umumnya,” sebagaimana diwartakan Bisnisjatim, Sabtu, (20/06/2026).
Melalui integrasi pembangunan lintas sektor tersebut, Pemdes Bayu menargetkan desa yang lebih mandiri, berdaya saing, serta mampu mengelola potensi alam dan budaya secara berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara