CILACAP – Transformasi sektor pariwisata membawa perubahan signifikan bagi Desa Wisata Jetis di Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Desa yang sebelumnya masuk kategori miskin ekstrem kini berhasil berstatus desa mandiri, seiring berkembangnya aktivitas wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat yang ditopang pembenahan infrastruktur kawasan pesisir.
Salah satu upaya yang tengah dilakukan adalah perbaikan tanggul pengaman sepanjang 150 meter di kawasan Muara Pantai Jetis. Perbaikan tersebut dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak untuk mengantisipasi abrasi sekaligus mempercantik kawasan wisata menjelang musim libur sekolah.
Tanggul yang menjadi pelindung sekaligus ikon kawasan pesisir Desa Jetis sebelumnya mengalami kerusakan dan ambrol di beberapa titik. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman abrasi yang dapat mengganggu aktivitas warga maupun sektor pariwisata yang menjadi penopang ekonomi desa.
Kepala Desa (Kades) Jetis, Muharno, mengatakan keberadaan tanggul memiliki peran penting dalam menjaga kawasan wisata sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“Perbaikan tanggul ini sangat kami syukuri karena manfaatnya tidak hanya untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi, tetapi juga membuat kawasan Muara Pantai Jetis menjadi lebih nyaman, lebih aman, dan lebih indah untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Muharno, Rabu (17/6/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Banyumas, Rabu (17/06/2026).
Menurutnya, kondisi tanggul yang lebih tertata akan meningkatkan kenyamanan pengunjung saat berwisata di kawasan pesisir Jetis.
“Kami berharap setelah diperbaiki, kawasan ini semakin menarik sehingga wisatawan yang datang merasa betah dan ingin kembali berkunjung ke Jetis bersama keluarga maupun kerabat mereka,” katanya.
Pemdes Jetis juga terus melakukan pembenahan secara berkelanjutan guna menjaga kualitas destinasi wisata yang menjadi andalan masyarakat setempat.
“Bagi kami, setiap pengunjung adalah tamu yang harus dilayani dengan baik sehingga kualitas destinasi harus terus dijaga agar mereka berkenan datang dan menikmati berbagai potensi yang dimiliki Desa Jetis,” tuturnya.
Selain peningkatan fasilitas wisata, desa tersebut juga mempersiapkan penyelenggaraan Festival Jolen yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Juli 2026 sebagai bagian dari kalender kegiatan budaya desa.
Muharno menjelaskan perkembangan sektor wisata telah membuka berbagai peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat. Dampaknya terlihat pada peningkatan kesejahteraan warga yang turut mengubah status desa dari miskin ekstrem menjadi desa mandiri.
“Dulu Desa Jetis pernah masuk kategori desa miskin ekstrem, tetapi berkat dukungan berbagai pihak dan berkembangnya sektor wisata, perekonomian masyarakat perlahan tumbuh sehingga kini kami berhasil menjadi desa mandiri,” ungkapnya.
Menurutnya, manfaat sektor wisata dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, nelayan, hingga tenaga kerja lokal yang terlibat dalam pengelolaan destinasi.
“Wisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga desa,” pungkas Muharno. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara