WONOSOBO – Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, berhasil menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor wisata berbasis alam. Keberadaan jalur pendakian Gunung Prau yang menjadi favorit wisatawan telah mendorong pertumbuhan berbagai usaha warga, mulai dari homestay, penyewaan perlengkapan pendakian, kuliner lokal, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Desa yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng tersebut mencatat lebih dari 122.000 kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara sepanjang 2025. Pada musim liburan panjang, jumlah kunjungan bahkan menembus lebih dari 25.000 wisatawan. Tingginya arus kunjungan itu menjadi sumber perputaran ekonomi baru bagi masyarakat setempat sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat (12/06/2026).
Patakbanteng yang berada di kaki Gunung Prau dengan ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut menawarkan panorama pegunungan serta pemandangan matahari terbit yang menjadi daya tarik utama. Lokasinya juga dikelilingi Gunung Pakuwaja, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan kawasan Dieng sehingga menjadi salah satu jalur pendakian favorit.
Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, warga mengelola sekitar 13 homestay dan kabin dengan tarif antara Rp250.000 hingga Rp1 juta per malam. Selain itu, tersedia layanan penyewaan perlengkapan outdoor, basecamp pendakian, warung makan, serta pusat penjualan oleh-oleh khas daerah.
Tidak hanya mengandalkan aktivitas pendakian, desa tersebut juga mengembangkan sejumlah paket wisata pendukung. Salah satunya Banteng Jeep Adventure yang menawarkan wisata off road melintasi perbukitan dengan panorama Dieng. Tersedia pula Wisata Edukasi Carica yang memperkenalkan proses budidaya dan pengolahan buah khas dataran tinggi tersebut.
Setiap Agustus, masyarakat setempat menyelenggarakan Festival Gunung Prau yang menampilkan berbagai kesenian dan budaya lokal. Kegiatan itu turut memperkuat daya tarik wisata sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM.
Produk UMKM yang berkembang di Patakbanteng antara lain olahan carica menjadi manisan, purwoceng sebagai minuman herbal, serta kentang Dieng yang diolah menjadi keripik, perkedel, dan kentang mustofa.
Desa Wisata Patakbanteng kini masuk dalam daftar desa wisata binaan Bakti BCA. Sebelumnya, desa tersebut berhasil masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta meraih Juara 1 kategori Resiliensi.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengatakan pengembangan desa wisata berbasis komunitas memiliki peluang besar untuk terus tumbuh.
“BCA berkomitmen untuk meningkatkan daya tarik wisata dan mengakselerasi perekonomian lokal secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kami senantiasa mendorong setiap Desa Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik uniknya. Melalui strategi pendampingan menyeluruh, mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas SDM, hingga perluasan akses pasar, kami ingin memastikan seluruh desa binaan dapat naik kelas menjadi komunitas yang unggul dan berdaya,” kata Hera dalam siaran pers, Kamis (11/6/2026).
Selain pendampingan ekonomi, Patakbanteng juga menjadi lokasi Program Genera Z Berbakti 2026. Melalui program tersebut, mahasiswa akan menjalankan berbagai inovasi sosial dan kegiatan pengabdian masyarakat selama Juli 2026 guna mendukung pengembangan potensi desa secara berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara