KLATEN – Desa Ngolodono di Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), terus mempertahankan warisan sejarah dan tradisi lisan yang telah hidup selama lebih dari satu abad. Desa yang dikenal pula dengan nama Ngaladana itu memiliki kisah asal-usul yang berkaitan dengan penyebaran Islam pada masa Kerajaan Demak Bintoro dan hingga kini masih menjadi bagian penting identitas masyarakat setempat.
Keberadaan Desa Ngolodono telah tercatat sejak sekitar tahun 1900-an. Berlokasi sekitar 25 kilometer dari Kota Solo, desa tersebut berkembang sebagai wilayah pemerintahan sekaligus pusat pelestarian sejarah lokal yang diwariskan turun-temurun oleh para sesepuh.
Menurut cerita masyarakat, nama Ngolodono berasal dari perjalanan seorang tokoh penyebar Islam bernama Ki Ageng Bantaran Angin yang pada masa Kerajaan Demak Bintoro mendapat tugas membuka wilayah dakwah di bagian timur Jawa. Dalam kisah yang berkembang di tengah masyarakat, tokoh tersebut merupakan murid Sunan Kalijaga melalui Ki Ageng Suto Wijoyo.
Tradisi lisan menyebutkan bahwa saat menghindari pengejaran pasukan Kerajaan Kediri, Ki Ageng Bantaran Angin bersembunyi dengan menanam rumput kolojhono. Peristiwa itulah yang diyakini menjadi cikal bakal lahirnya nama Ngolodono yang kemudian melekat sebagai identitas desa hingga sekarang, sebagaimana diwartakan Tribunsolo, Rabu (10/06/2026).
Selain dikenal melalui legenda asal-usulnya, desa tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan penyebaran Islam di wilayah Klaten. Dalam cerita masyarakat, Ki Ageng Bantaran Angin dibantu seorang cantrik bernama Naga Biru dalam menjalankan dakwah dan membangun masjid di kawasan tersebut.
Masyarakat setempat juga meyakini adanya keterkaitan spiritual antara masjid yang pernah dibangun di wilayah Ngolodono dengan kawasan Gunung Majasto di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Karena perannya dalam penyebaran Islam, Ki Ageng Bantaran Angin dikenal pula dengan sebutan Syech Qubro dan dimakamkan di Dukuh Bitaran, Desa Ngolodono.
Perjalanan desa ini juga ditandai dengan pergantian kepemimpinan dari masa ke masa. Sejumlah kepala desa telah memimpin dan menjadi bagian dari proses pembangunan wilayah, mulai dari Taru Moeljono hingga Jumadi yang menjabat pada periode terakhir sebelum tahun 2025.
Hingga kini, warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai religius yang berkembang di Desa Ngolodono masih dijaga masyarakat sebagai bagian dari identitas lokal. Keberadaan situs sejarah serta destinasi wisata di sekitar wilayah tersebut turut memperkuat daya tarik desa sebagai salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan sejarah lokal di Klaten. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara