Gelombang Pasang Lumpuhkan Desa Pesisir, Pengungsi Aceh Utara Belum Dibantu

ACEH UTARA – Ratusan warga di sejumlah desa pesisir Kabupaten Aceh Utara (Aceh) masih bertahan di pengungsian setelah banjir rob merendam wilayah mereka selama lima hari berturut-turut. Hingga Kamis (21/5/2026), para pengungsi dilaporkan belum menerima bantuan, sementara genangan air masih terjadi di beberapa lokasi meski intensitasnya mulai berkurang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh mencatat banjir rob melanda lima kecamatan di Aceh Utara, yakni Kecamatan Lapang, Seunuddon, Samudera, Dewantara, dan Muara Batu. Bencana yang terjadi sejak 15 Mei 2026 itu dipicu gelombang laut tinggi yang menyebabkan abrasi pantai dan genangan air laut masuk ke permukiman warga serta akses jalan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Bahron Bakti mengatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut meskipun ratusan warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat mereka.

“Namun, kami pastikan tidak ada koban jiwa dalam peristiwa itu,” ujar Bahron saat dihubungi melalui telepon, Kamis (21/5/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (21/05/2026).

Berdasarkan data sementara, sebanyak 224 jiwa mengungsi di Desa Kuala Cangkoi, 103 kepala keluarga di Desa Matang Baroh, dan 58 jiwa di Desa Kuala Keureuto, Kecamatan Lapang. Sementara itu, jumlah pengungsi di wilayah lainnya masih dalam proses pendataan.

Menurut Bahron, banjir rob merupakan ancaman yang hampir setiap tahun dihadapi masyarakat pesisir Aceh Utara. Karena itu, warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gelombang pasang susulan.

“Hasta kini masih banjir, namun tidak separah pada 15 dan 16 Mei 2026,” katanya.

Ia menambahkan, petugas BPBD Aceh Utara terus berada di lapangan untuk memantau kondisi masyarakat dan memastikan keselamatan warga terdampak.

“Kami imbau warga tetap waspada,” ucapnya.

Di sisi lain, Kepala Desa (Kades) Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, M Kaoy mengungkapkan hingga kini bantuan bagi para pengungsi belum tersedia. Sebagian besar warga yang terdampak memilih tinggal sementara di rumah keluarga mereka.

“Mereka menetap di rumah keluarganya sementara waktu. Mereka ini penyintas banjir pada 25 November 2025 lalu yang menetap di hunian sementara. Hunian sementaranya juga rusak, saya sudah laporkan ke BNPB,” katanya.

Kondisi tersebut menambah beban warga terdampak karena selain harus mengungsi akibat banjir rob, sebagian dari mereka juga merupakan penyintas banjir sebelumnya yang masih menempati hunian sementara. Warga berharap bantuan segera disalurkan dan langkah penanganan jangka panjang, termasuk perlindungan kawasan pesisir, dapat segera direalisasikan untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Wisata Sawundarek Diperkuat Lewat Pelatihan Pariwisata Berkelanjutan

PDF đź“„RAJA AMPAT – Pemberdayaan perempuan menjadi fokus utama program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang …

Akses KB Berkualitas Diperluas, Desa-Desa di Pandawan Jadi Sasaran

PDF đź“„BARABAI – Kolaborasi antara Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (KB) Kecamatan Pandawan dan Ikatan Bidan …

Hoaks dan Politik Uang Jadi Sorotan Menjelang Pilkades Bone

PDF đź“„BONE – Menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Pergantian Antar Waktu (Pilkades PAW) 2026, Kepolisian …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *