KABUPATEN CIREBON – Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tidak hanya merendam ribuan rumah warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pendidikan, pemerintahan desa, serta tempat ibadah. Hingga Selasa (19/5/2026), genangan air masih bertahan dengan ketinggian mencapai satu meter di sejumlah titik terdampak.
Banjir terparah dilaporkan terjadi di Desa Rawaurip, Desa Bendungan, dan Desa Pangenan. Selain merendam permukiman, air juga menggenangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Pangenan, kantor desa, area persawahan, hingga tambak garam yang berada di wilayah utara jalur Pantai Utara (Pantura).
Kondisi di SDN 1 Pangenan memaksa kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara. Halaman sekolah berubah menjadi genangan luas, sementara sejumlah peralatan sekolah terlihat hanyut akibat derasnya arus banjir.
Salah seorang siswa kelas III SDN 1 Pangenan, Pian, mengaku belum mengetahui kapan sekolah kembali dibuka.
“Iya, sekolah diliburin,” ujar Pian saat ditemui di lokasi banjir, sebagaimana diberitakan Tribun Cirebon, Selasa, (19/05/2026).
“Iya. Soalnya ngeri kena banjir,” ucapnya.
“Kalinya enggak dikeruk,” kata dia.
“Enggak tahu, sampai surut aja,” katanya.
Sementara itu, Camat Pangenan Baihaqi menjelaskan banjir dipicu limpasan air dari wilayah Kabupaten Kuningan yang mengalami hujan deras di kawasan hulu Sungai Cimanis sejak Senin malam.
“Kalau kita lihat ke hulu, kejadiannya memang tadi malam jam 12 malam. Itu merupakan kiriman dari Kuningan yang mengalami hujan besar melalui aliran Sungai Cimanis yang ada di Desa Beringin,” ujar Baihaqi.
Menurutnya, luapan air bermula dari Desa Beringin setelah debit sungai meningkat dan melampaui tanggul yang dinilai tidak cukup tinggi.
“Memang tanggulnya kurang tinggi dan limpasan ini mencapai hampir 70 sentimeter berdasarkan pengecekan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS),” ucapnya.
Air kemudian bergerak ke wilayah pesisir menjelang subuh dan merendam sejumlah desa di Kecamatan Pangenan.
“Yang paling parah terdampak adalah Desa Rawaurip,” kata dia.
Baihaqi menyebut sekitar 500 hingga 1.000 rumah di Desa Rawaurip terdampak banjir. Sementara itu, sekitar 400 rumah di Desa Bendungan dan kurang lebih 500 rumah di Desa Pangenan juga ikut terendam.
“Yang paling terparah sementara berdasarkan laporan yang kita terima ada di Desa Rawaurip, karena wilayahnya merupakan cekungan,” katanya.
Akibat banjir yang belum surut, sebagian warga mulai meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Sebagian warganya pun sudah banyak yang mengungsi atau pindah sementara ke rumah keluarga-keluarga terdekat di sekitar sini,” ujarnya.
Menurut Baihaqi, proses surutnya banjir terhambat oleh fenomena air laut pasang atau rob yang menahan aliran air menuju laut.
“Banjir ini masih belum surut, ditambah lagi informasinya air laut sedang pasang sehingga air tidak bisa langsung surut,” ucap Baihaqi.
Selain permukiman, banjir turut berdampak pada sektor pertanian dan pergaraman yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
“Pastinya areal persawahan dan pergaraman yang ada di utara jalan ini terendam semua,” ujar Baihaqi.
Saat ini, pemerintah kecamatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial masih melakukan pendataan kerusakan serta menyiapkan bantuan bagi warga terdampak. Salah satu usulan yang diajukan adalah pembentukan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
“Ke Dinas Sosial, saya mengusulkan untuk pembuatan dapur umum,” kata Baihaqi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara