ACEH UTARA – Ancaman banjir rob yang terus menerjang kawasan pesisir di Kabupaten Aceh Utara (Aceh Utara) memicu kekhawatiran warga akan hilangnya sejumlah desa akibat abrasi dan genangan air laut yang semakin parah. Masyarakat mendesak pemerintah segera membangun tanggul pemecah ombak permanen untuk melindungi permukiman, infrastruktur, dan wilayah pesisir yang terdampak sejak beberapa hari terakhir.
Banjir rob dilaporkan merendam sejumlah desa di Kecamatan Seunuddon, Kecamatan Lapang, dan Kecamatan Muara Batu sejak Jumat (15/5/2026). Desa-desa terdampak antara lain Desa Ulee Rubek Barat, Desa Lhok Pu’uk, Desa Kuala Keureuto, Desa Kuala Cangkoi, Desa Matang Baroh, Desa Meunasah Aron, Desa Ulee Madon, dan Desa Bungkah yang berada di kawasan pesisir Aceh Utara.
Luapan air laut yang terjadi saat pasang purnama disebut semakin mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, serta mengancam keberlangsungan permukiman warga. Kondisi tersebut membuat masyarakat meminta langkah konkret untuk mengurangi dampak banjir rob yang terus berulang.
Panglima Laut Seuneuddon, Bachtiar, mengatakan banjir rob telah terjadi selama puluhan tahun dan menyebabkan kerusakan bertahap di wilayah pesisir.
“Satu dusun di Desa Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon sudah harus direlokasi. Semuanya hancur secara bertahap. Sampai kapan kami tenggelam karena banjir rob?” ujarnya, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (19/05/2026).
Menurut Bachtiar, pembangunan tanggul pemecah ombak menjadi solusi utama untuk melindungi kawasan pesisir dari terjangan gelombang laut yang terus mengikis daratan.
“Jika tidak ada pemecah ombak, lama kelamaan satu kampung akan tenggelam karena banjir rob,” katanya.
Kondisi serupa juga dialami warga Kecamatan Lapang. Kepala Desa (Kades) Kuala Keureuto, M Kaoy, menilai pembangunan tanggul permanen menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan wilayah pesisir dari ancaman kehilangan daratan.
“Kalau tidak ada pembangunan tanggul permanen bibir pantai, lama-lama desa ini akan hilang karena banjir rob,” kata M Kaoy.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Bungkah, Zulkarnain, mengungkapkan banjir rob telah merusak jalan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Bahkan, dua ruas jalan dilaporkan amblas sehingga akses warga menjadi terganggu.
“Solusinya pembangunan tanggul bibir pantai harus segera dilakukan,” kata Zulkarnain.
Selain merendam permukiman, banjir rob juga menyebabkan sejumlah warga mengungsi karena hunian sementara yang mereka tempati tidak lagi aman untuk dihuni. Masyarakat berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan tanggul di sepanjang pesisir agar aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat kembali berjalan normal.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum Aceh Utara belum memberikan tanggapan terkait permintaan warga mengenai pembangunan tanggul pemecah ombak. Warga berharap langkah mitigasi segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas dan menjaga keberlangsungan desa-desa pesisir di Aceh Utara. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara