LEMBATA – Penyakit darah pisang dilaporkan mulai menyebar di Desa Lamalela, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat mengingatkan petani untuk segera melakukan langkah pencegahan agar serangan bakteri tidak meluas ke wilayah lain dan mengganggu produksi pertanian warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Pangan) Kabupaten Lembata, Muktar Hada, mengatakan laporan awal diterima dari warga Desa Lamalela yang menemukan tanaman pisang mengalami gejala layu dan mengering.
Menurutnya, laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Lebatukan untuk dilakukan pemeriksaan di lapangan.
“Setelah diidentifikasi oleh petugas POPT Lebatukan, hasilnya diketahui hasilnya tanaman pisang telah terserang penyakit darah pisang,” kata Muktar, sebagaimana dilansir Detikbali, Rabu (13/05/2026).
Muktar menjelaskan penyakit darah pisang merupakan penyakit berbahaya yang disebabkan bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis. Serangan penyakit itu ditandai dengan daun pisang menguning, pangkal daun patah, daun menggantung, hingga batang tanaman mengeluarkan lendir berwarna putih sampai cokelat kemerahan saat dipotong.
Selain itu, anakan pisang juga dapat mengalami layu, sedangkan jantung pisang tampak mengering, mengerut, dan menghitam.
Untuk menekan penyebaran penyakit, Distan Pangan Lembata mengimbau petani menjaga kebersihan kebun melalui sanitasi rutin dan melakukan eradikasi pada tanaman yang terinfeksi.
“Diimbau kepada bapak ibu yang punya kebun pisang agar melakukan pencegahan dengan sanitasi kebun, eradikasi, pemotongan jantung pisang setelah sisir buah terakhir,” pinta Muktar.
Ia juga meminta petani membersihkan alat pertanian menggunakan disinfektan atau sabun agar bakteri tidak menyebar antar tanaman. Petani turut dianjurkan memanfaatkan agen hayati Trichoderma sp. sebagai langkah pengendalian tambahan.
Penyebaran penyakit darah pisang sebelumnya juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Flores Timur (Flotim), tepatnya di tiga desa di Kecamatan Wulanggitang. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit tanaman yang dapat memengaruhi hasil pertanian masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara