MALANG – Penguatan ekonomi pedesaan dinilai menjadi kunci penting dalam menciptakan pembangunan nasional yang merata dan berkelanjutan di tengah tantangan urbanisasi, ketimpangan wilayah, hingga tekanan ekonomi global. Desa kini tidak lagi dipandang sebagai wilayah pendukung semata, melainkan fondasi utama pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Visiting Lecturer Program 2026 yang diselenggarakan Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, University of Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, sebagaimana diberitakan Tribun Jabar, Sabtu (09/05/2026).
Narasumber utama dalam forum akademik tersebut, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan pembangunan nasional tidak dapat dipisahkan dari kondisi desa sebagai basis kehidupan masyarakat Indonesia.
“Hingga saat ini masih terdapat kesenjangan cukup besar antara desa dan kota, baik dari sisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, maupun akses terhadap peluang ekonomi,” ujarnya dalam pemaparan, Kamis (7/5/2026) malam.
Menurut Achmad, desa sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih menghadapi berbagai persoalan mendasar seperti tingginya angka kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), serta ketergantungan terhadap sektor primer seperti pertanian dan sumber daya alam.
Ia juga menyoroti meningkatnya urbanisasi yang membuat banyak tenaga kerja produktif meninggalkan desa demi mencari peluang ekonomi di perkotaan. Kondisi tersebut dinilai menyebabkan desa kehilangan sebagian potensi SDM yang seharusnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Dalam forum tersebut, Achmad menekankan pentingnya modal sosial sebagai kekuatan utama masyarakat desa. Menurutnya, nilai kepercayaan, gotong royong, solidaritas, partisipasi masyarakat, hingga kemampuan membangun kolaborasi menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan.
“Modal sosial bukan hanya hubungan antarwarga, tetapi menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa,” katanya.
Ia menilai pembangunan desa harus berbasis partisipasi masyarakat melalui musyawarah desa serta penguatan kelembagaan lokal seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), koperasi, dan kelompok tani.
Selain itu, pengembangan SDM melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, literasi digital, serta literasi keuangan juga dinilai menjadi prioritas dalam mendukung pembangunan pertanian dan meningkatkan daya saing desa.
“Desa tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi subjek utama dalam penggerak ekonomi nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Gunawan Prayitno yang hadir sebagai Visiting Lecturer Partner menyampaikan transformasi digital di wilayah pedesaan memiliki peran strategis dalam membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat ekonomi lokal, serta meningkatkan efektivitas pelayanan publik bagi masyarakat desa.
Forum akademik tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi dan kolaborasi baru dalam memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan berbasis modal sosial guna mendukung pembangunan Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara