CIREBON – Getaran misterius yang mengguncang Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, masih menyisakan tanda tanya besar setelah hanya satu sensor milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mampu merekam kejadian tersebut, sementara dampaknya justru terasa nyata hingga merusak rumah warga.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 11.22 WIB itu tidak hanya memicu kepanikan, tetapi juga menyebabkan kerusakan fisik pada sejumlah bangunan. Plafon runtuh, kusen jendela terlepas, serta retakan dinding menjadi bukti bahwa guncangan tersebut cukup kuat dirasakan warga.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki keterbatasan data karena hanya satu sensor yang menangkap sinyal getaran. “Pada waktu tersebut, sensor BMKG di Pasawahan, Kuningan (PKJM) mencatat adanya getaran. Namun sinyal yang terekam sangat kecil dan tidak terdeteksi oleh tiga sensor lainnya,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Tribun Cirebon, Selasa, (21/04/2026).
Ia menambahkan, analisis awal menunjukkan adanya selisih waktu sekitar tiga detik antara gelombang P dan S yang mengindikasikan sumber getaran berada sekitar 10 kilometer dari titik sensor. Namun, data tersebut belum cukup untuk memastikan penyebab pasti.
“Berdasarkan data tersebut, diperkirakan sumber getaran berada pada jarak kurang lebih 10 kilometer dari lokasi sensor,” ucapnya.
BMKG juga belum dapat memastikan apakah getaran tersebut merupakan aktivitas seismik lokal atau berasal dari sumber lain seperti aktivitas geotermal maupun gunung api. “Karena hanya satu sensor yang mencatat, sistem belum bisa melakukan pemrosesan analisis secara menyeluruh,” jelasnya.
Di sisi lain, perangkat Desa Cipanas, Toyib, mengungkapkan bahwa warga merasakan getaran lebih dari sekali dalam waktu berdekatan. “Pada hari ini terjadi dua kali getaran, masing-masing pukul 11.18 WIB dan 11.21 WIB. Bahkan terasa lebih besar dibandingkan hari sebelumnya,” ujarnya.
Ia menyebutkan, dampak paling terasa di wilayah Blok Beledug, Blok Karang Anyar, dan Blok Tari Kolot. Warga bahkan mulai merasakan fenomena serupa sejak Sabtu (18/4/2026), meski dengan intensitas lebih ringan.
Menariknya, getaran tidak dirasakan secara merata di seluruh wilayah desa, yang justru memperkuat kesan misterius dari kejadian ini. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan dan ketidakpastian penyebab membuat warga masih diliputi kecemasan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengandalkan informasi resmi. “Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi,” ujarnya.
Hingga kini, warga Desa Cipanas masih menunggu kepastian penyebab getaran tersebut, sembari berharap tidak terjadi guncangan susulan yang dapat memperparah kondisi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara